Jumat, 29 Mei 2015

Mengenal Bu Dar Mortir

Dikalangan warga Surabaya terutama angkatan 45 dan juga Kodam V Brawijaya , nama Bu Dar Mortir bukanlah nama yang asing. Ketika Inggris menyerbu Surabaya Bu Dar adalah orang yang pertama menginisiasi pendirian dapur umum karena pemuda-pemuda yang maju bertempur itu tentunya tidak kepikiran bagaimana nanti mereka bisa mendapatkan ransum makanan.


Selain mendirikan dapur umum, Bu Dar juga mendirikan dan mengorganisir pos-pos PMI untuk merawat para pejuang yang terluka. Bu Dar senantiasa mengawasi dengan ketat distribusi nasi-nasi bungkusnya, jangan sampai diterima para pemuda dalam keadaan sudah basi.

Total terdapat 100 dapur umum yang tersebar diantara Gresik dan Sidoarjo. "Kami harus mendistribusikan semuanya dengan tepat, dalam situasi genting pertempuran !" ujar Bu Dar.

Kawan-kawan seperjuangan Bu Dar pada masa itu diantaranya Ibu dr Angka Nitisastro, Ibu Soemantri, Ibu Dirdjo / Ibu Moenandar ( istri dari dr Samsi ), Ibu Soepeno dan masih banyak lagi.
Dalam sebuah gerakan pengunduran diakhir tahun 1945 dari Surabaya ke kota Jombang, ketika sampai kota Jombang ternyata kota ini sudah kosong ditinggalkan sebagian besar penduduknya. Karena para pejuang sudah sangat kelaparan maka Bu Dar mendatangi sebuah toko cina yang masih buka. Melepaskan gelang dan kalung emasnya seberat 100 gram untuk ditukarkan dengan bahan makanan bagi para pejuang.

Ketika kota Surabaya telah jatuh total ketangan Inggris, Bu Dar diminta bantuannya untuk mengurusi dapur umum markas pertahanan COPP VI dibawah pimpinan Letkol Latif Hadiningrat.



Mei 1948 Bu Dar beroperasi di kawasan Kediri, tinggal dirumah Ibu Soewono. Saat di Kediri inilah pernah beliau hampir diculik oleh gerombolan Sabarudin. Atas kejadian ini Bu Dar melaporkan kepada Komandan Divisi bahwa pasukan Sabarudin berbuat onar dan terjadi kerenggangan antara pimpinan-pimpinan lapangan.

Agustus 1948 Bu Dar bergerak ke kawasan Ploso dan Karangrejo untuk melakukan survey kesiapan sawah penduduk untuk cadangan makanan para pasukan nantinya. Dalam perjalanan antara Karangrejo menuju Mojo, beliau bertemu dengan rombongan pasukan CPM ( Corps Polisi Militer ) para pengawal Panglima Besar Soedirman. Disitu Bu Dar melaporkan bahwa desa Mojo tidak aman, maka pasukan tersebut berpindah ke desa lain yang berjarak 3 km dari desa Mojo.

Ditahun 1949 Bu Dar kerap masuk kota yang telah dikuasai musuh untuk mempersiapkan keperluan logistik TNI dengan menyamar menjadi pedagang. Selain itu juga mengamati keadaan dan situasi dalam kota, setiap hal penting dilaporkan kepada Komanda Divisi. Termasuk juga sepak terjang anggota pasukan Sabarudin.

Selain jalan umum, Bu Dar pun sering keluar masuk melalui jalur hutan. Dibulan Februari 1949 beliau berjalan melewati kawasan hutan Bajulan, Ngliman, Gunung Wilis hingga Trenggalek. Saat dikota Trenggalek terjadi perseteruan antara pasukan TRIP melawan Kompi Zainal. Hal ini memudahkan Belanda menundukkan kota Trenggalek dan melakukan "pembersihan" ke desa-desa sekitarnya.

30 April 1949 Bu Dar berjalan menuju Tengger melewati Campurdarat, dalam perjalanan ini Bu Dar ditemani dua perwira yaitu Letnan Pramudji dan Letnan Parjadi. Jadi sejak awal meletusnya Perang Surabaya 1945 hingga masa Perang Kemerdekaan bisa dikatakan beliau tak pernah absen.

Bu Dar juga menyaksikan peristiwa genting aksi PKI Madiun ditahun 1948. PKI sudah mengetahui bahwa Bu Dar aktif dalam Brigade S. Dalam operasi penumpasan PKI dipimpin oleh Jonosewojo yang menggerakkan pasukan S dari arah Kediri dan Ali Sadikin yang memimpin pasukan Siliwangi bergerak dari arah barat. Pasukan Siliwangi menduduki kota Madiun lebih awal.

Para pimpinan RI yang menjadi tawanan PKI di desa Doengoes tidak berhasil diselamatkan, semuanya ditembak oleh pasukan PKI.  Sebagai wujud ucapan terimakasih dari warga Kodam V Brawijaya kepada Bu Dar Mortir, sebuah mobil Colt Pick up diberikan pada beliau ditahun 1978.


Semoga Bu Dar Mortir diberikan tempat yang layak disisi Nya atas semua jasanya dalam masa mempertahankan kemerdekaan.


dirangkum dari artikel berjudul "Tetepangan Bu Dar Mortier" foto dan wawancara oleh Sudi Suyono yang dimuat Panjebar Semangat no 16 tertanggal 21 April 1971.


Ady Setyawan / 087852412254 

Senin, 06 April 2015

Fotografer Mengungkap Aksi Balas Dendam Belanda di Jawa 1949




Fotografer Yang Mengungkap Aksi Balas Dendam Belanda di Jawa 1949


Koran NRC, 4 April 2015
Oleh Marjolein van Pagee dan Gijsbert van Es

Pada tanggal 24 Juli 1949, Marinir Belanda melakukan aksi pembalasan dengan menembaki 60 penduduk sipil dan membakar lebih kurang 50 rumah. Kejadian ini tersimpan dalam catatan seorang sekretaris desa dan kesaksian para penduduk yang ditelusuri oleh seorang fotografer, Marjolein van Pagee.
Sejauh ini belum ada catatan resmi tentang detil kejadian pada pelajaran perang kemerdekaan Indonesia Belanda ditahun –tahun tersebut. Sehari sebelumnya pada tanggal 23 Juli 1949 terjadi insiden tewasnya 4 anggota marinir Belanda dan seorang mata-mata cina.

Data Korban
Sebuah patroli marinir dipimpin oleh Leen Teeken berangkat tanpa persiapan yang cukup dan hanya membawa persenjataan ringan dengan jumlah 10 orang marinir Belanda dan seorang mata-mata cina. Di kawasan desa Prambon Wetan, Jawa Timur, mereka disergap oleh pejuang-pejuangn Indonesia. 6 marinir Belanda ditawan selama 2 bulan.

Ketika Marjolein van Pagee mengunjungi desa Prambon Wetan, dia mendapatkan catatan dari sekretaris desa. Itu adalah sebuah catatan detil tentang pertempuran didesa itu. Dituliskan dalam catatan nama-nama korban dipihak Indonesia berikut peta sederhana lokasi kejadian. Tidak diketahui dengan jelas atas perintah siapa aksi balas dendam tersebut , juga tidak diketahui siapa komandan lapangannya.


( bersambung ke halaman 11 )

Halaman 11

Apakah ini aksi Balas dendam Belanda ?

Hindia Belanda
Pada Juli 1949 satu regu patroli Belanda berjalan menuju titik penyergapan yang disiapkan Indonesia. Satu hari kemudian desa itu dibakar. Apa yang sebenarnya terjadi di Prambon Wetan ?

Tiga orang Belanda dan tiga orang Indonesia. Lembaran sejarah kelam mengikat jiwa mereka berenam, catatan dari kematian lebih dari 70 orang. Tiga orang Indonesia yang hidup di Jawa Timur tidak mengenal tiga orang Belanda yang lain. Mengenai kisah masa lalu mereka pada perang tersebut, belum seluruhnya terungkap dengan sempurna.

Hanya sisi patriotik Belanda saja yang tertulis dipihak kita. Terutama dikalangan veteran marinir, kisah patroli Teeken sangat melegenda. Pada 22 Juli, Leen Teeken mengambil alih komando pos Rengel, Jawa Timur. Sehari kemudian mendadak dia memberangkatkan sebuah patroli dikawasan yang cukup “bermasalah” ini untuk menunjukkan “siapa yang berkuasa”, mencari para pejuang gerilya dan TNI yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Sebelum kejadian ini, pasukan darat / Land Army membombardir Prambon Wetan dengan mortir yang menewaskan beberapa orang penduduk sipil. Dibulan Juni sebulan sebelumnya, kepala desa Prambon Wetan terbunuh ketika menyerang patroli Belanda ketika ia berupaya menyerang dengan lemparan granat tangan.

Pada akhir Juli 1949, veteran marinir Ben Ruerling adalah anak buah Teeken. Lebih dari 65 tahun kemudian, dia menyebut bahwa insiden itu adalah kesalahan besar dari Teeken yang berangkat hanya dengan 10 marinir bersenjata ringan ditemani seorang mata-mata cina. Ruerling ingat kesunyian dan suasana begitu tenang didesa itu sesaat sebelum patroli mereka mendadak dihujani peluru TNI. Dalam pertempuran sengit, Teeken dan tiga anggota marinir lainnya terbunuh. Mata-mata cina yang juga terbunuh akibat tembakan, mayatnya dicincang dengan senjata tajam oleh penduduk desa.

“Saya menyalahkan Teeken atas insiden ini, adalah kesalahan dia orang-orang itu harus terbunuh” kata Ben Ruerling yang juga tertembak di dada dan lengannya. Dia menjadi tawanan bersama 6 marinir lainnya. Seorang tawanan marinir Belanda lainnya meninggal selama ditawan karena terkena malaria. Dua bulan kemudian mereka semua dibebaskan. Keluarga Ruerling di Belanda telah dikabari bahwa dia telah terbunuh, berita dukacita tentang kematiannya juga sudah dimuat di surat kabar, namun ternyata dia masih hidup.

Ruerling dan veteran Belanda lainnya, juga saksi mata dipihak Indonesia menceritakan kisahnya pada Marjolein van Pagee seorang fotografer Belanda. Dia memotret mereka semua dan siaran radio langsung mengenai kisah ini akan disiarkan hari Minggu malam. Sejak 2010 Van Pagee melakukan penelitian perang kemerdekaan antara Indonesia-Belanda. Dia merasa kisah perang 1945-1949 yang beredar di Belanda hanya satu sisi, dari pihak Belanda saja, “kisah-kisah para penduduk lokal Indonesia harus di integrasikan dengan penulisan pihak Belanda” ucapnya.

Disisi Belanda, Marjolein van Pagee juga mewawancarai Dies Bom ( 87 ) seorang mantan sopir ambulans.  Beberapa hari setelah insiden itu, dia diperintahkan mengevakuasi jenazah para marinir yang terbunuh, jasad mereka dibuang kesungai. “baunya sangat tidak tertahankan” katanya, saat itu dia mengevakuasi tanpa sarung tangan atau alat pelindung lainnya.


Monumen

Sebuah Monumen didirikan untuk mengenang perjuangan semasa 1949 didesa Prambon Wetan, Jawa Timur. Jika kita bertanya pada penduduk sekitar tentang kisah dibalik berdirinya monumen maka tiga nama akan segera diberikan.
Soecipto (78) menceritakan bagaimana dalam usia 12 tahun sudah diajari TNI untuk menggunakan senjata api. “Kami semua menembak hampir bersamaan agar Belanda mengira kami mempunyai senapan mesin” ujarnya mengenai pertempuran tanggal 23 Juli 1949.
Kusnan ( 80 ) bercerita sangat cocok dengan catatan Belanda , “kami tahu mereka datang patroli satu regu, beberapa kami bunuh, beberapa kami tangkap hidup-hidup”.
Lilik (72) , anak dari kepala desa yang terbunuh saat menyerang patroli Belanda dibulan Juni, sebulan sebelumnya. “Saat itu saya sembunyi dibawah tempat tidur ketika mendengar sebuah ledakan besar, ternyata itu adalah ledakan granat yang menewaskan ayah saya” . Lalu dia menaruh sebuah buku catatan diatas meja, berisi 15 halaman berisi kekerasan bersenjata antara desember 1948 hingga juli 1949.
Bagian terkelam adalah catatan tertanggal 24 Juli 1949, sehari setelah disergapnya patroli Teeken ketika mereka menembaki penduduk sipil dan membakari rumah. 64 penduduk tewas dan 56 rumah dibakar habis. Catatan itu menulis dengan detil nama-nama korban.

6 orang dengan kisah yang saling mengikatkan
Catatan Sekretaris Desa berisi nama-nama korban

Aksi Balas Dendam

Fotografer Marjolein van Pagee menunjukkan list para penduduk yang terbunuh dalam aksi balas dendam tersebut pada veteran Belanda yang berada di lokasi kejadian ditahun 1949. Letnan Carel van Lookeren Campagne (89) adalah salah satunya. Dia sampai beberapa hari kemudian setelah insiden pertempuran untuk mencari anggota patroli Teeken yang hilang.
Apakah van Lookeren pernah mendengar aksi balas dendam ini? “Tidak” katanya. Namun dia menjelaskan bahwa suasana emosional para prajurit sangat terasa, mereka sangat ingin ada aksi kekerasan. Dia mengatakan “sangat sulit mengatur emosi mereka hingga berkali-kali saya teriakkan kata God Dammit pada mereka “ . Ruerling, marinir yang tertawan dalam insiden tersebut mengatakan “jika aksi balas dendam itu benar, maka saya sungguh merasa malu” 


ditulis ulang dalam bahasa Indonesia oleh 
Ady Setyawan / 087852412254