Selasa, 27 Oktober 2015

Bioskop Sampoerna, Korban Pertama Front Pertempuran Surabaya

Kita mungkin sudah tidak asing mendengar nama Museum House of Sampoerna, namun bagaimana kisah sejarah pada masa perang Surabaya dibalik megahnya bangunan yang dahulu pernah berfungsi sebagai gedung bioskop ini ?

Berikut adalah kutipan dari buku "Pertempuran Surabaya" yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto pada halaman 154-155 :

Pertahanan disekitar bioskop Sampoerna dan pabrik rokok Lien Sing Tee pada pagi hari 10 November dipertahankan oleh para pejuang berjumlah lebih kurang 100 orang terdiri dari pemuda PRI serta dari badan-badan perjuangan lainnya. Mereka kebanyakan berasal dari Tambak Bayan, Nggringsing, Kebalen, Labuan.

Ikut sertanya mereka disektor pertahanan tersebut umumnya atas kehendak sendiri tanpa ada yang mengkoordinasi. Dua malam sebelum pertempuran terjadi, ketempat tersebut telah bergabung 20 orang pemuda bersenjata lengkap. Mereka umumnya menggunakan seragam tentara Jepang. Usia mereka berkisar antara 17 sampai 20 tahun.

Setelah selesai melakukan bombardemen yang dimulai sejak pukul 10.00, Inggris mulai menggerakkan tank dan infanterinya. Dalam pertempuran dimuka bioskop Sampoerna dengan pasukan gurkha yang mengambil posisi pertahanan dimuka pertahanan para pemuda telah jatuh korban pertama dipihak pemuda Indonesia berusia sekitar 17 – 18 tahun tanpa diketahui identitasnya ( sumber : “Kisah Kapten Muslimin Tentang Pahlawan Tak Dikenal”, Suara Karya 11 November 1974 ). Korban kemudian yang gugur disektor pertahanan bioskop Sampoerna berjumlah tujuh orang.
Mereka yang gugur dalam pertempuran didepan bioskop Sampoerna merupakan korban pertempuran pertama dari semua front pertempuran Surabaya. Karena adanya tekanan dari Inggris akhirnya para pemuda mundur ke kampung Pesapen dan viaduct. Dalam rangkaian bombardemennya Inggris berhasil menghancurkan bangunan Hoofd Bureau terutama bagian muka dan belakang gedung tersebut.


Kamis, 10 September 2015

Kisah Pertamakali Merah Putih Berkibar di Pangkalan Angkatan Laut Ujung

Monumen penanda gedung Modderlust dan perjuangan generasi pertama TNI AL.
Foto: Serka Angga Sanjaya

Lokasi monumen diseberang monumen Jalesveva.
Foto : Serka Angga Sanjaya

Kawasan pangkalan Angkatan Laut Ujung adalah salah satu aset penting Indonesia yang dibangun oleh Belanda, berturut kemudian dikuasai Jepang. Bagaimana kisah hari pertama bendera sang saka merah putih berkibar ditempat ini?

Mari kita simak penuturan dari Moh.Affandi yang menuliskan pengalamannya dalam buku "Pengalaman Pribadi dalam Masa Perjuangan Kemerdekaan" halaman 26 sebagai berikut : 

Sejak tanggal 29 September 1945 telah terjadi pengepungan terhadap SE 21/24 Butai ( kini pangkalan Angkatan Laut Ujung ). Pencegatan dan penawanan terhadap serdadu Jepang yang keluar atau masuk SE 21/24 Butai dimulai jam 4 sore pada tanggal 1 Oktober 1945.

Pada jam 10 malam Samsidi datang ke tempat tawanan dikumpulkan, dengan bantuan tawanan Jepang yang dapat bicara bahasa Indonesia, kami menjelaskan pada tawanan lain agar SE 21/24 Butai segera diserahkan saja pada rakyat. Para tawanan Jepang mengatakan bahwa tak ada satupun dari mereka yang memiliki kewenangan tersebut, penyerahan setidaknya dilakukan oleh Butaitjo.

Saya kembali ke Benteng Miring dan menyampaikan hal tersebut, golongan muda mengusulkan supaya perebutan dilakukan saja dengan cara kekerasan. Latip mengusulkan menawan para pimpinan Butaitjo dan Munadji menerangkan dia tahu rumah-rumah para pembesar Butaitjo di kawasan Ketabang dan Darmo, usul inipun diambil. Munadji ditugaskan menunjukkan rumah-rumah yang akan digerebek. Latip dan Sutedjo Eko memimpin BKR Laut dan PRIAL melakukan penculikan dan penawanan. PRI Utara dan BPRI membantu angkutan.

Jam 2 malam Latip dan Sutedjo Eko kembali ke Benteng Miring dengan laporan bahwa yang bisa diselesaikan hanya yang ada di Ketabang saja. Mereka kembali karena paginya semua telah menyiapkan serbuan serentak atas SE 21/24 Butai.

Serbuan direncanakan datang dari dua jurusan. Saya akan memimpin penyerbuan dari sepanjang Kalimas bergabung dengan pasukan Rambe yang datang dari jembatan Ferwerda.  Soetedjo Eko dan Latip beserta orang-orangnya menyerbu dari Tanjung Perak dan menyeberangi Kalimas melalui dermaga trem Madoera.

Harun dan Samsidi mengerahkan orang-orang kampung Nyamplungan dan Sukodono untuk bersama-sama membuat takeyari/bambu runcing  dari bambu apus milik pedagang bambu yang bertumpuk-tumpuk di Benteng Miring.

Jam 3 malam Samsidi dan Munadji kembali mengecek ke lokasi tawanan untuk melihat apakah penculikan Butaijo berhasil atau tidak. Ternyata Latip dan Sutedjo Eko tidak bisa memastikan apakah betul mereka anggota Butaitjo karena info dari Munadji hanya nomor-nomor rumah saja, tanpa informasi nama penghuni.

Keadaan semakin tegang, jika Jepang tidak menerima maksud kami untuk menyerahkan pangkalan angkatan laut, maka emosi massa diluar sana takkan terbendung. Para tawanan pasti akan dibinasakan dan pangkalan angkatan laut akan diserbu.

Diantara tawanan yang berjejal dan berjongkok, seorang berteriak  “Kaigun bersedia menyerahkan SE 21/24 Butai tapi harus secara resmi seperti yang biasa dilakukan kedua negara, harus dilakukan pembesar Nippon dan pembesar Indonesia dan harus tertulis diatas kertas”.

Akhirnya didapat persetujuan bersama, akan diberikan surat perintah kepada semua personil Kaigun di SE 21/24 Butai agar tidak melakukan perlawanan. Surat ini setelah dicap oleh Markas Kaigun Embong Wungu harus diberikan kepada pos penjagaan Jepang di pangkalan Ujung.

Saya perintahkan Munadji untuk mengurus surat itu ke Embong Wungu dan harus diberikan pada saya ke Benteng Miring paling lambat jam 8 pagi. Di Benteng Miring kami mengkoordinasikan perintah kepada badan-badan perjuangan yang terlibat agar jika Jepang menyerah dan tidak melakukan perlawanan maka kita jamin keselamatan mereka.

Pada jam 5 pagi warga dan buruh sudah mulai berdatangan ke Benteng Miring, sebagian besar telah bersenjata. Bagi yang datang tanpa senjata diperintahkan untuk membuat sendiri bambu runcingnya dengan segera. Walau sudah ada peluang kemungkinan Jepang menyerah namun harus disiapkan segala kemungkinan, seluruh warga yang terlibat wajib bersenjata.

Rombongan warga ini diatur dalam kelompok-kelompok beserta bagian-bagian tugas oleh Samsidi dan Harun. Saya dan para pimpinan kelompok PRI AL, PRI Utara, BPRI dan BBIAL mengambil posisi berhadapan dengan pos penjagaan Jepang dekat jembatan Ferwerda dalam jarak 50 meter.  Dari seberang jembatan Ferwerda datanglah Rambe melaporkan PRI Utara dengan ribuan buruh PAL dan warga siap menggabungkan diri dengan barisan yang saya pimpin. Samsidi melaporkan rakyat yang bergabung berjumlah tiga ribu orang dan dalam perjalanan terus mengalir massa rakyat dari bermacam badan perjuangan diperkirakan berjumlah 6.000 orang. Karena banyaknya massa rakyat yang bergabung maka diputuskan nantinya akan bergerak masuk dari dua arah, dari sisi Kalimas dan dari jalan darurat Mokodjoseng.

Munadji akhirnya datang pada hampir jam 8 pagi. Dia menyerahkan surat perintah yang telah dicap kepada saya. Saya serahkan kembali surat tersebut kepada Munadji dan memberinya perintah supaya dengan motornya secepat mungkin masuk ke pangkalan Ujung dan menyerahkan surat tersebut dan saya tunggu dia kembali dan memberi laporan selambat-lambatnya jam 9 pagi. Mereka berangkat dua orang dengan motor, saya tidak ingat siapa yang memegang setir dan siapa yang duduk di zijspan. Setelah Munadji berangkat datanglah bantuan dari pasukan Kepolisian dengan mitraliur dan senjata-senjata lengkap. Setelah mendapat penjelasan rencana penyerangan dari saudara Harun, mereka mengadakan stelling didekat saya.

Jam menunjukkan 9 kurang seperempat,Munadji belum juga kembali. Hati saya mulai gelisah, apakah pimpinan Jepang di Ujung menolak perintah atasannya? Apakah Munadji ditawan ? ataukah dia dibunuh? Macam-macam fikiran membuat semakin tegang.

Para penjaga Jepang dipos dekat Ferwerda yang semula siap berstelling dibalik tumpukan pasir tiba-tiba masuk kerumah penjagaan dan meninggalkan stellingnya. Kemudian dua serdadu Jepang dengan sepedanya meninggalkan penjagaan menuju Ujung. Komandan Polisi mendatangi saya dan mengatakan ia akan memindahkan satu regu menduduki tumpukan karung pasir yang ditinggalkan pasukan Jepang, dengan alasan karung-karung itu akan menjadi perlindungan jika pasukan Jepang dalam rumah penjagaan membuka tembakan sekaligus jika itu terjadi maka akan mudah memusnahkan mereka dengan lemparan satu granat dari posisi tumpukan karung tersebut.

Saya menyetujui usul itu, namun rupanya gerakan ini menimbulkan salah duga dari rakyat yang telah berjam-jam menunggu. Mereka semuanya turut bergerak, tetapi setelah mengetahui bahwa Polisi hanya berpindah stelling saja, mulai terdengar makian, teriakan dan cemoohan-cemoohan khas Surabaya. Mereka bukan orang-orang yang sabaran.

Ada kalanya saya ingin menuruti kehendak rakyat, dalam sekali sapuan saja rumah penjagaan itu tentunya dapat dimusnahkan. Tapi pikiran lain mengatakan bahwa sebagai pimpinan saya harus tepati janji, ribuan rekan dan rakyat mempercayakan kepemimpinan pada saya.

Alhamdulillah akhirnya dari jauh terdengar suara motor, Munadji datang. Keadaan yang hiruk pikuk seketika menjadi sunyi,jam menunjukkan 9 kurang 2 menit. Munadji mengatakan bahwa pimpinan Jepang di Ujung setuju untuk tidak melakukan perlawanan. Saya perintahkan Latip dan Sutedjo Eko memastikan bahwa jalanan didepan aman, baik yang sepanjang Kalimas maupun jalan darurat Mokodjoseng. Pasukan rakyat mulai bergerak masuk pada jam 9 pagi.

Saya perintahkan mereka bergerak dengan aba-aba “siaaap” , diikuti para sokutaku menyiapkan barisannya masing-masing yang mereka pimpin. Teriakan “siaap” bersahut-sahutan. Pasukan Polisi menggerebek rumah penjagaan dan sama sekali tak ada perlawanan.

Dari jembatan Ferwerda ribuan rakyat berbaris masuk, mulai awalnya berbanjar 4 lama kelamaan menjadi berbanjar 8 memenuhi jalan. Saya berjalan paling depan bersama Samsidi, Harun dan beberapa pimpinan badan perjuangan dan dibelakang saya barisan pasukan pendekar.

Hati saya dipenuhi perasaan bangga dan penuh keyakinan bisa memusnahkan apasaja yang menjadi penghalang perintang jalan. Saya yakin perasaan ini juga ada dihati tiap rakyat dalam barisan. Barisan depan yang panjang bergerak dengan langkah teratur, tenang dan rapi. Entah bagaimana halnya dengan barisan belakang yang dilaporkan tiada habis-habisnya.

Jauh sebelum memasuki pintu gerbang, saya disambut saudara Latip yang melaporkan bahwa tidak ada perlawanan didepan. Semua pasukan masuk menduduki lapangan Ujung dan Modderlust. Dalam perjalanan,bendera merah putih yang dibagikan saat di Benteng Miring mulai dikeluarkan dari dalam baju dan mulai dikibarkan.

Bendera terbesar dibawa oleh Samsidi rencananya dikibarkan pada tiang tertinggi dimana biasa dikibarkan bendera Hinomaru. Saat kami sampai, bendera Hinomaru sudah tidak ada berikut tali benderanya sudah diambil. Saya minta Sutedjo Eko naik kepodium dan meminta sukarelawan untuk naik ketiang bendera utama dan memasangkannya.

Seorang pemuda melompat keatas podium, mengalungkan merah putih ke lehernya dengan cekatan memanjat tiang. Ribuan massa  terdiam seakan tersihir, semua mata tertuju pada tiang bendera utama. Dengan tangan dan gigi bendera itu berkibar, si pemanjat pun turun.

Tiba-tiba terdengar pekik merdeka, entah siapa yang meneriakkan dan seolah-olah massa pun terbangun dari tidurnya. Riuh rendah pekik merdeka bersahutan tiada henti meledak diangkasa bersamaan dengan kepalan-kepalan tangan yang teracung, ada tangan kanan, ada tangan kiri. Hatiku penuh rasa sukur kepada Tuhan, bangga, riang gembira, syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ingin saya menari, bernyanyi, berteriak dan ingin menangis untuk melapangkan dada yang rasanya sesak oleh rasa haru dan gembira.

Saya naik keatas podium, dibawah kibaran sang saka yang telah sejak beratus-ratus tahun untuk pertamakalinya berkibar di Pangkalan Angkatan Laut Ujung bersama Sutedjo Eko disamping saya. Saya nyatakan Pangkalan Angkatan Laut sebagai milik Republik Indonesia. Diakhiri dengan pekik merdeka sebanyak tiga kali, saya melihat dihadapan, wajah bangsaku yang berseri-seri, bangga, dengan sorot mata yang keras, menantang, berani dan disanasini nampak airmata yang meleleh tak tertahankan lagi.
Dalam saat-saat yang demikianlah kami bersama-sama ucapkan sumpah “Saya rela dan ikhlas mengorbankan harta benda maupun jiwa raga untuk Nusa dan Bangsa”. Dalam perjuangan selanjutnya dikenal sebagai “Sumpah Ujung”.

Seluruh pasukan Jepang yang menyerah dikumpulkan di lapangan Pasiran.