Home / Article / Catatan Kisah Alun-alun Contong Surabaya.
Alun-alun Contong Surabaya
Alun-alun Contong Surabaya

Catatan Kisah Alun-alun Contong Surabaya.

Ketika kita generasi muda mendengar tentang alun alun contong, apa yang ada dalam pikiran para pembaca sekalian? mungkin masih banyak yang belum pernah tahu dimana lokasinya, hanya sekedar “pernah dengar” saja. Ini mungkin karena saat ini orang sudah tidak lagi menyebut kawasan ini dengan sebutan alun alun contong.

Bila kita berjalan dari arah Tugu Pahlawan menuju Siola, maka kita akan menyusuri Jalan Pahlawan, lalu setelah gedung Gubernuran maka jalan akan terpecah menjadi dua,yaitu Jalan Pahlawan dan Jalan Kramat Gantung, alun alun contong berada tidak jauh dari pertemuan kedua jalan ini. Dan mungkin generasi sekarang lebih mengenal kawasan ini dengan sebutan daerah Baliwerti, entah kenapa sebutan “alun alun contong” tiba-tiba tidak banyak digunakan lagi  =)

Mengenai tugu putih ini dibangun untuk mengenang seorang warga negara Jerman yang berjasa kepada Belanda, dalam situsnya http://djawatempodoeloe.multiply.com , Priambodo Prayitno aka Olivier Johanes menuliskan :

Pada tahun 1889 lapangan yang berbentuk kerucut ini diberi nama Von Bultzingslöwenplein. Nama ini diambil dari nama Günther von Bultzingslöwen (1839-1889), bekas konsul Jerman di Surabaya yang berjasa terhadap Palang Merah di Perang Aceh I (1873-1874). Tugu di tengah alun-alun dibangun untuk memperingati jasa dari Von Bultzingslöwen.

Kini tugu ini sudah tidak ada, informasi via chat dengan Olivier Johanes, penulis djawa tempo doeloe, tugu ini masih berdiri pada tahun 1960

Kondisi alun alun contong saat ini :

contong

 

tugu1

tugu2

 

Kawan-kawan kesulitan membaca tulisan dalam tugu ini? jangan khawatir, saya akan tuliskan 😉
berikut isinya:

gedung ini pernah mengalami kehantjuran dimasa revolusi kemerdekaan tahun 1945 sebagai akibat berkobarnja pertempuran di kota surabaja dan pemboman pihak musuh ( inggris, gurkha, nica ) jang dilantjarkan dari darat,laut dan udara

surabaja menjadi lautan api bersamaan dengan itu bertjutjuranlah tetesan darah dan gumpalan daging para pahlawan pejuang kemerdekaan jang telah mendahului kita gugur sebagai kusuma bangsa

sifat kepahlawanan mereka adalah perwudjutan jang njata sebagai watak untuk rela berkorban demi suatu tugas suthi jang besar dan tjita tjita jang besar pula jang tumbuh dari kesadaran tanpa pamrih akan dharma baktinja kepada panggilan tanah air

sedjarah membuktikan bahwa kepahlawanan bukan monopolinja seseorang atau golongan melainkan suatu perhiasan watak jang setiap orang/rakjat dan siapapun dapat memiliki asal ia sedia berkorban untuk kepentingan
negara dan bangsanja

kita harus berani dan djudjur menilai keadaan bahwa amal perbuatan jang didjiwai dengan semangat sedia dan rela berkorban akan menentukan nilai dan mutu kepahlawanan setiap orang

rasa chidmad dan terimakasih kepada mereka jang kini makam makamnja terpendam dibumi indonesia berserakan didalam makam makam pahlawan seluruh nusantara

tak ada perdjuangan tanpa pengorbanan dan pengorbanan itulah jang akan hasilnja suatu perdjuangan
itu sendiri

djadikanlah hari pahlawan sebagai hari untuk membaharui semangat kepahlawanan disepandjang masa

surabaja, 10 nopember 1970.

 

dan berikut saya tuliskan dari buku perang 10 November 1945 terbitan Puspen TNI mengenai alun alun contong pada masa itu :

……………..keadaan di alun alun contong sangat memprihatinkan, para korban berjatuhan dan kelompok PMI sama sekali tak berdaya menolong akibat pengeboman yang terus menerus terhadap area itu, genangan darah, potongan potongan tubuh bercampur dengan suara erangan kesakitan dan dentuman tembakan artileri inggris………….

Demikian sedikit catatan saya mengenai alun alun contong surabaya, semoga kenangan warga Surabaya akan alun alun ini tak pernah lekang oleh waktu, terutama para generasi muda Surabaya =)

ditulis oleh :

Ady Erlianto Setyawan, ST

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

IMG_20180811_142908_1537200402720[1]

Palagan Mendalan Kasembon

Tanggal 25 Desember 1948 seusai TNI mengundurkan diri ke Gunung Parasbang, mereka menyusun rencana untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *