Kisah Bapak Amari, Seorang Veteran Cacat Surabaya. - Roodebrug
Home / Article / Kisah Bapak Amari, Seorang Veteran Cacat Surabaya.
Bapak Amari
Bapak Amari

Kisah Bapak Amari, Seorang Veteran Cacat Surabaya.

 

BAPAK AMARI

lahir di surabaya aslinya dia dilahirkan pada tanggal  25 Agustus 1928, namun pada keterangan dari vervolkschool bertanggal  27 Agustus 1928, sedangkan dari surat keterangan remi pemerintah, tertulis dilahirkan tanggal 28 agustus 1928

lumayan sekali ulang tahunnya dirayakan 3 hari berturut turut 🙂

Riwayat pendidikan beliau diawali dari SD /  vervolkschool ( 5 tahun) lulus tahun 1940
masuk HIS ditolak karena bukan keturunan ningrat, dia ditolak oleh petugas yang juga berkebangsaan Indonesia…

pak amari berkata “saya ingat betul, padahal dia orang Indonesia, menolak saya dengan bilang “nei..nei…nei…kamu bukan turunan ningrat…tidak bisa lanjutkan sekolah!!”

karena tidak lanjut sekolah, beliau bekerja berjualan di surabaya, pedagang di pinggir jalan

ketika jepang masuk, pak amari berpikir untuk masuk tentara.

Pada tahun 1943 PETA dibentuk di surabaya, Amari muda ikut mendaftar dengan semangat, namun dia tidak beruntung, saat uji kesehatan dia tidak lolos dan dinyatakan gagal dikarenakan kakinya O.

namun rupanya nasib berkata lain, kebetulan kawan sekolah dia ada yg bernama amari juga, si amari lain ini dinyatakan masuk seleksi namun dilarang melanjutkan oleh orang tuanya,

amari lain: cak…aku gak entuk melok dadi tentara karo bapakku, iki surat surate sampeyan gawe ae nek peno gelem
amari muda: woh iyo iyo…aku gelem!!!

lalu surat surat dari amari lain ini diberikan ke amari muda, akhirnya amari muda bisa masuk menjadi tentara PETA, kamp pelatihan di gunungsari surabaya pada tahun 1943.

kemerdekaan yang dikumandangkan tanggal 17 agustus 1945 baru didengar amari muda pada tanggal 20 agustus 1945 , saat itu radio dan surat kabar diawasi ketat oleh jepang,

amari muda saat itu berpangkat gyohei/prajurit dalam PETA, komandannya bernama chudanco sungkono, berada dalam peta daiichi daidan      ( batalion satu  peta)

chudanco sungkono : gyohei amari!!
gyohei amari : siap!!
chudanco sungkono : kita sekarang ini sudah merdeka, kamu pergi ke kampung2 dan siapkan para pemuda untuk bertempur mempertahankan kemerdekaan!!
gyohei amari : siap!!
Amari muda yang saat itu tinggal di jl kalongan gang 3/16 tidak kesulitan saat harus menghimpun kekuatan pemuda2 di kampungnya, menghimpun kekuatan pemuda2 krembangan dengan total berjumlah 3 seksi, lebih kurang 110 orang dibawah komando amari hingga pecahnya perang 10 nopember 1945, amari muda mengajari mereka baris berbaris, teknik bertahan, teknik menyerang, teknik berlindung dan bagaimana cara menembakkan senjata2 ringan, granat dan tekidanto, namun saat itu rakyat masih belum bersenjata

pada tanggal 22 agustus 1945, dari radio bekupon doro (disebut radio bekupon doro karena dulu dalam satu kampung ada satu radio yang dibangun tinggi semacam rumah merpati untuk didengarkan bersama sama, di salah satu adegan film soerabaia45 ada adegan pemuda2 kampung mendengarkan radio bekupon ini ) barulah diketahui oleh penduduk kampung bila kita udah merdeka

jepang saat itu diam, tidak banyak bergerak, vakum dan tidak ada kegiatan sama sekali

pada akhir agustus 1945, amari membagi beras dan gula ke penduduk pake cikar yang ditarik 2 ekor sapi, bersama 4 orang kawannya PETA membagi gula dan beras yang diambil dari gudang logistik peta gunungsari yang harusnya diperuntukkan bagi anggota peta sendiri, sambil membagi beras, amari muda juga menyebarkan propaganda dengan teriakan teriakan “kita sudah merdeka, kita sudah bisa bebas makan beras, namun kita juga harus siap mempertahankan kemerdekaan ini”

saat perobekan bendera di hotel oranje pada tanggal 19 september 1945, pak amari berada dibawah, dia yang mengatur massa dibawah agar tidak ikutan naik keatas semua, cukup 4 orang saja, lalu setelah bendera dirobek, bagian birunya ada yang diberikan ke pak amari oleh pemuda perobek, saat itu disimpan oleh pak amari sebagai kenangan, tapi hilang saat pindahan rumah. dia saat itu bersenjata vickers dan pedang katana. berseragam peta warna hijau.

pada pertempuran fase pertama tanggal 28-30 oktober 1945 dia tidak pernah baku tembak secara langsung/berhadap hadapan musuh, amari muda pertama kali kontak senjata dengan musuh saat perang fase kedua yang diawali dengan bombardir inggris atas kota surabaya tanggal 10 November 1945.

tepat satu bulan setelah 10 nopember 1945, amari muda dan pasukannya terdesak mundur sampai di kawasan wonokromo

di garis pertahanan wonokromo, pak amari menembak 4 tentara inggris menggunakan senapan rampasan dari tentara gurkha, kemungkinan lee einfield, tapi pak amari sendiri tidak  terlalu ingat dengan jenis senjata yang digunakan, saat itu dia seorang diri berlindung dibalik gundukan rel kereta api, sedang tentara inggris ada di bagian barat jalan a.yani, mereka awalnya menembaki pak amari, pak amari hanya diam bertiarap dibalik gundukan rel kereta api, saat tembakan mereda, dia membidik satu topi baja inggris yang terlihat, tembakan pertama membuat orang itu tersungkur, lalu pak amari berguling pindah ke posisi lainnya dan menembak topi baja yang terlihat, lalu dia ulangi lagi….. menembak lagi dan berguling berpindah tempat lagi hingga menembak 3 topi baja, lalu inggris mundur, mereka mengira berhadapan dengan sekelompok penembak mahir, saat membopong tentara inggris yang terluka, pak amari menembak tentara yang membopong hingga ia bisa mendengar tentara itu menjerit dan jatuh, lalu pak amari melarikan diri dari tempat itu, dia tidak tahu apakah 4 orang ini mati semua apa tidak, tapi dia yakin mengenai ke empatnya

pada bulan desember 1945 pak amari tertembak di pinggul di sekitar bunderan waru, pabrik kulit…lalu berguling tiarap kemudian disusul terkena ledakan granat yang dilontarkan, mengakibatkan luka parah di sekujur tubuh bagian kanan dan kehilangan mata kanan.

dia tergeletak selama hampir semalaman hingga akhirnya dievakuasi oleh pejuang, para pejuang lainnya mengira amari muda sudah gugur karena luka yang sangat parah dan sudah tidak bergerak sama sekali

saat itu amari sudah ditutup kain merah putih, dalam bayangan amari muda, saat itu dia sedang berjalan diatas air, lalu ada gemericik air, dia berjalan ke gemericik air dan berniat wudlu, setelah wudlu…dia menatap ke bawah dan kaget karena dia berdiri diatas permukaan air tanpa tenggelam, jadi dia merasa mengapung berdiri diatas air, sempat terpikir olehnya “lhoh kok aku isok mlaku nang ndukur banyu? lha aku iki lak wong sakti?”
kemudia dia teringat bahwa surabaya sedang perang, dan dia harus segera kembali ke garis pertahanan kota, maka dalam bayangannya dia berlari menuju surabaya

didunia nyata, kawan2 amari yang saat itu sedang makan disamping tubuh amari yang sudah dibungkus kain merah putih terkejut karena kain itu bergerak gerak ditendangi amari dari dalam, lalu mereka segera membuka kain merah putih dan amari langsung sadar…

“lhoh cak…..sampeyan gak sido mati?”
“sopo sing koen anggit mati iku? aku durung mati!!”
“lha sampeyan ket wingi wes gak onok obahe blas”

lalu amari menoleh ke sampingnya dan melihat lubang jenazah
“koen iku maeng kape mendem aku tah rek?” ”yo iyo cak….maeng iku sampeyan dikiro wes mati”
“nguawur ae!!”

dan amari bercerita…”seandainya anak anak itu tidak makan dulu mungkin saya ini sudah dikubur hidup hidup dan cerita saya sudah tamat, tapi untungnya mereka itu kok makan dulu baru mau ngubur saya, kalo yang dilakukan sebaliknya ya habis saya”

operasi pengambilan serpihan granat ditubuh amari muda di RS malang bulan januari 1946, operasi mata di jogja 3 bulan setelah operasi pengambilan serpihan granat, ditangani oleh dokter yap kwee tiong
sedangkan proyektil peluru yang bersarang  dipinggangnya keluar2 sendiri saat darah dan nanahnya dipompa untuk dibersihkan

tahun 1948 saat agresi militer, bergabung ke kesatuan pejuang di gresik, kawasan kalitangi dan berpangkat serma

tahun 1950 keluar dari dinas tentara

menikah tahun 1963, pada usia 38 tahun dan dikaruniai 6 putra

tahun 1972 terpilih juara catur se indonesia dan berprestasi panahan, pada tahun itu dia jalan jalan keliling asia karena prestasinya.

Bapak Amari
Bapak Amari ( Author : Ady Setyawan, doc : Bagus Kamajaya )

 

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

Tabur Bunga Mawar Merah dan Putih Oleh Warga Belanda Pada Makam-makam Pahlawan Tak Dikenal Tabur Bunga ini diadakan oleh komunitas Roodebrug Soerabaia

[VIDEO] Tabur Bunga Mawar Merah dan Putih Oleh Warga Belanda Pada Makam-makam Pahlawan Tak Dikenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *