Sabtu, 27 November 2010

Listrik Jaman Kolonial

Gardu Listrik Lawas di Bambu Runcing
Secara umum sejarah kelistrikan di Indonesia dimulai pada tahun 1897 ketika berdiri perusahaan listrik yang pertama yang bernama Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) di Batavia dengan kantor pusatnya di Gambir. Sedangkan sejarah kelistrikan di kota Surabaya bermula ketika perusahaan gas NIGM pada tanggal 26 April 1909 mendirikan perusahaan listrik yang bernama Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM).

Sebelumnya, penerangan di kota menggunakan gas yang dialirkan ke rumah – rumah dan untuk penerangan jalan di malam hari. ANIEM adalah satu dari perusahaan swasta yang diberi hak untuk membangun dan mengelola sistem kelistrikan di Indonesia pada waktu itu. Sebelum berdirinya Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang diberi hak monopoli kelistrikan di Indonesia, pengelolaan listrik masih dilakukan sendiri-sendiri oleh perusahaan- perusahaan swasta.

Gardu Listrik Lawas di Kedungdoro
ANIEM merupakan perusahaan yang berada di bawah NV. Handelsvennootschap yang sebelumnya bernama Maintz & Co. Perusahaan ini berkedudukan di Amsterdam dan masuk pertama kali ke kota Surabaya pada akhir abad ke-19 dengan mendirikan perusahaan gas yang bernama Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM). Ketika ANIEM berdiri pada tahun 1909, perusahaan ini diberi hak untuk membangun beberapa pembangkit tenaga listrik berikut sistem distribusinya di kota-kota besar di Jawa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama ANIEM berkembang menjadi perusahaan listrik swasta terbesar di Indonesia dan menguasai distribusi sekitar 40 persen dari kebutuhan listrik di negeri ini. Seiring dengan permintaan tenaga listrik yang tinggi, ANIEM juga melakukan percepatan ekspansi. Tanggal 26 Agustus 1921 perusahaan ini mendapatkan konsesi di Banjarmasin yang kontraknya berlaku sampai tanggal 31 Desember 1960. Pada tahun 1937 pengelolaan listrik di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan diserahkan kepada ANIEM.

Listrik merubah kebiasaan hidup warga kota Surabaya. Jika sebelumnya keluar rumah di malam hari selalu membawa obor dengan bahan bakar minyak, dengan adanya listrik penerangan jalan membuatnya menjadi mudah. Demikian juga dengan angkutan umum trem listrik menggantikan trem uap yang menyebabkan polusi dari pembakaran. Namun infrastruktur juga perlu dibangun lebih lanjut, seperti beberapa jembatan yang dilalui oleh trem listrik harus menyediakan tiang yang cukup untuk melayani kabel-kabel listrik yang dibutuhkan oleh trem.

Gardu-gardu listrik dari jaman ANIEM ini kini sudah tidak banyak lagi di Surabaya, sebagian kondisinya sudah tidak terawat atau digunakan untuk usaha kaki lima.


Narasi : Bagus Kamajaya
Foto : Andhikae

Arkeologi di Kebon Rojo

Kantor Pos Besar Kebon Rojo Surabaya melangsungkan sebuah event yang bekerja sama dengan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan Badan pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata. Pameran ini berlangsung mulai tanggal 25 November 2010 hingga 30 November 2010.

Pameran digelar di bagian barat gedung kantor pos yang didirikan pada jaman kolonial tersebut. Ruangan ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung dapat menikmati pameran dengan mengikuti alur dari ruangan yang terbuat dari panel knock down.

Sayangnya item yang dipamerkan tidak seluruhnya berupa barang peninggalan bersejarah. Ada beberapa batu dari Majapahit, keris dan patung –patung kecil saja. Sisanya berupa panel – panel digital printing yang didisain dengan mencampurkan teks dan fotografi. Beberapa kisah menarik yang dituliskan pada panel poster tersebut. 

Di salah satu sudut terdapat sebuah panel poster yang menceritakan tentang seorang fotografer yang kemungkinan besar sangat asing bagi orang kebanyakan di negara kita. Namanya Kasijan Chepas. Karya fotonya bukanlah menggunakan efek lensa ataupun sentuhan digital imaging. Melainkan sebuah karya yang sangat berharga berupa foto dari panel-panel relief Maha Karmawibhangga.

Panel relief sepanjang 320 meter ini tersembunyi di bagian paling bawah dari candi Borobudur dan di selubungi oleh panel batu di bagian luarnya. Relief yang terdiri dari potongan – potongan panel batu berukuran 213 x 57 cm ini merupakan visualisasi dari siklus kehidupan dan berlakunya hukum sebab akibat dari setiap tindakan baik dan tindakan buruk manusia.
Panel ini ditemukan oleh Ijzerman, seorang insinyur Belanda yang kemudian menugaskan Kasijan untuk mendokumentasikan relief–relief Maha Karmawibhangga tersebut. 

Salah Satu Panel Relief Karmawibhangga tentang menggunjing orang lain

Celengen berbentuk Babi
Selain beberapa benda masa lalu berupa celengan babi dan miniatur rumah. Di sebuah etalase kecil dipajang beberapa patung kecil dan diberi judul “Figurin”, mengingatkan saya pada koleksi action figure saya di rumah yang terdiri dari tokoh kartun dan super hero idola saya. Namun yang di pajang di pameran ini seluruhnya terbuat dari batu atau tanah liat. Salah satunya ada berbentuk seperti boneka mainan anak-anak, dan ada juga yang berbentuk wajah seseorang dengan pipi gemuk seperti yang sering digambarkan sebagai visualisasi dari Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit.

Surya Majapahit, simbol kerajaan Majapahit

Narasi : Bagus Kamajaya
Foto : Andhikae

Jumat, 26 November 2010

Kisah Bis Tanpa Roda

Kantor Pos Besar Kebon Rojo Surabaya
Pernah ada guyonan di masa kecil dulu : bis apa yg gak ada rodanya? jawabannya adalah bis surat! hehehe... mungkin itu sekedar guyonan belaka, tapi mari kita tengok keberadaan bis surat yang berserakan di seluruh Surabaya.
Surat menyurat yang resmi menggunakan perangko atau kartupos sudah ada sejak jaman kolonial di Jawa. Apalagi Gubernur Jendral Hindia Belanda, Herman Willem Daendels membangun jalan raya pos di wilayah pantura pulau Jawa, makin memudahkan pengiriman surat melalui jalan darat. Jalan Raya Pos atau De Groote Postweg ini merupakan karya terbesar Daendles yang mana jalan sejauh seribu kilo meter terbentang dari Anyer hingga Panarukan, dapat di selesaikan dalam 1 tahun pengerjaan. Namun dalam prosesnya ribuan penduduk Jawa menjadi korban kerja rodi tersebut.

Bis Surat di pintu masuk Kantor Pos
Dahulu surat dikirim melalui kurir menggunakan kuda dari pos-pos yang didirikan di setiap kota. Seiring dengan berlalunya waktu, bis surat tersebar di beberapa tempat di setiap kota dan surat akan diambil secara bergiliran dalam periode tertentu setiap minggunya.

Benda pos seperti kartupos dan perangko juga menjadi barang koleksi, apalagi jika termasuk barang antik dan langka. Nilainya akan sangat mahal dari tahun ke tahun. Tapi bagaimana eksistensi pos dewasa ini? dengan makin berkembangnya teknologi, kartupos ucapan bisa digantikan oleh MMS dari telepon seluler. Berita cepat melalui telegram dapat digantikan oleh e-mail atau pesan di situs jejaring sosial.

Anda tidak perlu bingung lagi dalam mencari tempat indeskost, atau menjual laptop anda. Cukup datangi bis surat terdekat, anda akan mendapat informasi yang anda butuhkan. Segala macam poster atau sekedar tulisan informasi ditempelkan pada dinding bagian luar bis surat yang malang ini. Mulai dari iklan 'Tukang Talang', 'Badut Ulang Tahun' sampai 'Gadai HP' ikut menghiasi bagian luar kota bis surat, sungguh sebuah media promosi yang murah tapi tidak pada tempatnya. 

Bis Surat di depan SD Kaliasin
Kalau anda ingat lagu Franky Sahilatua tentang kota Surabaya, ada liriknya yang berbunyi : "bis kota sudah miring ke kiri ..." nah kalo yang ini bis surat yang posisinya miring ke kiri dan dipenuhi tempelan poster. Beginilah nasib beberapa bis surat yang ada di kota Surabaya. Sebagian menjadi korban vandalisme, sebagian sudah tidak terawat lagi.

Dulu bis surat adalah menjadi bagian romantisme muda-mudi yang saling berkirim surat, betapa senang hati kita saat menerima surat dari pak pos dan betapa hati ini berdebar saat membuka surat dari orang yang kita kasihi. Bahkan beberapa orang menyuguhkan hidangan dan minuman kepada petugas pos sebagai ungkapan terima kasih.
Surat pos juga sebagai media ungkapan perasaan sayang dan rindu orang tua kepada anak, kakak kepada adik di tempat jauh yang biasanya menggunakan kalimat kalimat santun seperti:
Ayahanda tercinta ... Ananda tersayang ... dan lain sebagainya ditulis dengan hati-hati dan sangat rapi. Kini kalimat-kalimat ungkapan itu digantikan oleh pesan pendek dengan singkatan-singkatan yang kadang membingungkan demi kecepatan penulisan SMS.


Bis Surat di Kampus ITS
Sebagian bis surat ini sudah digantikan dengan yang berbahan fiber, mungkin lebih murah dan mudah dalam penggunaanya. Bis surat kini menjadi seperti bagian dari hiasan kota di trotoar jalan, berdiri seperti celengan yang tidak pernah terisi penuh. Tapi di jaman seperti ini siapa lagi yang peduli dengan ribuan nyawa pekerja rodi dan kisah tutur kata santun dalam etika menulis surat dimasa lalu?



Narasi : Bagus Kamajaya
Foto : Andhikae

Tentara Pelajar Surabaya


Semangat memperoleh kemerdekaan pada masa pendudukan Jepang telah merasuk ke semua lapisan masyarakat. Para pemuda yang masih tergolong remaja belasan tahun pun tidak mau ketinggalan, mereka tergabung dalam tentara pelajar yang bermarkas di jalan Darmo 49 Surabaya.
Jalan Darmo 49 adalah alamat dari Sekolah Menengah Tinggi Surabaya. Yang mana para pelajar di sana terbiasa dengan system belajar yang menggunakan bahasa Jepang dalam kesehariannya. Tidak mengherankan sebab pada masa itu Jepang berkuasa di Indonesia sejak tahun 1942.
Rasa tanggung jawab terhadap kondisi bangsa dan semangat kemerdekaan yang menyala nyala membuat para pelajar ini mengadakan pertemuan di Solo pada bulan Mei 1945. Mereka bersumpah akan berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air, dan akan menghancurkan setiap penjajah tanah air tercinta. Mereka tidak mau kemerdekaan itu diberi oleh Jepang, melainkan mereka ingin ikut berjuang.
Pada bulan April 1945 perang di Pasifik sendang memuncak. Para pemuda pelajar dari berbagai sekolah menengah tinggi berkumpul di gedung Radio Surabaya jalan Simpang 35 untuk meyatukan kebulatan tekad untuk ikut serta dalam pembelaan tanah air.
Pihak Jepang menjanjikan pelatihan Pasukan Pelajar Istimewa yang akan dididik dalam Daidan atau tangsi-tangsi Heiho, sehingga para pelajar mendapatkan pelatihan dalam olah senjata dan ilmu pertempuran.  Namun setelah para pelajar ini bergabung, mereka di beri pengetahuan lain di luar ilmu kemiliteran seperti  ilmu pengetahuan tentang mesin, pabrik-pabrik dan bengkel-bengkel mobil. Pada tanggal 19 Agutus, pelatihan itu selesai, tentara Jepang memberitahukan tentang kemerdekaan Indonesia. Para pelajar itupun kembali ke bangku sekolah.

Setelah insiden bendera dan penyerbuan ke markas Kenpeitai, para pemuda pelajar bersiap untuk menghadang kedatangan sekutu. Sekolah menengah tinggi dijadikan markas dan tempat pelatihan ilmu pertempuran. Para pelajar itu dibagi dalam regu-regu. Mereka menggunakan aula sebagai tempat istirahat dan mengatur pasukannya. Dengan singkat sekolah dimiliterisasi. Pada tanggal 19 Oktober 1945 para pelajar ini mengganti pena dan buku – buku pelajaran dengan  sangkur dan bedil. Sekolah di jalan Darmo 49 berubah nama menjadi markas BKR Kota Darmo 49 Surabaya.
Para pelajar ini mendapatkan seragam Jepang dengan ukuran yang seadanya. Baju  dan celana yg dipakai seringkali tidak sesuai dengan ukuran mereka, ada kebesaran dan ada yang kekecilan. Terutama pada sepatu, paling banyak yang kebesaran sehingga kaki mereka lecet-lecet setelah mengenakannya.
Pasukan tentara pelajar ini terlibat dalam beberapa penyerangan terhadap posisi pasukan Inggris. Antara lain di Radio Surabaya jalan Simpang,  markas Inggris di jalan Kayun. Gedung HBS jalan Ambengan.
Begitu besar semangat dan energi anak muda pada waktu itu, beruntung sekali mereka dapat menggunakannya untuk membela kedaualatan Negara Republik Indonesia. Suatu hal yang harus dijadikan contoh  di jaman ini, dimana kreatifitas dan sumbangsih pemuda – pemuda Indonesia dibutuhkan dalam pembangunan bangsa. 

Narasi & Foto : Bagus Kamajaya
Dari : Pelajar dan Perang Kemerdekaan

Kamis, 25 November 2010

Sejarah RSUD dr Soetomo/Nieuwe Centrale Burgerlij Ziekeninrichting

RSUD dr Soetomo, atau biasa juga disebut sebagai RS Karangmenjangan oleh warga Surabaya, kenapa kali ini saya tertarik menulis tentang Rumah Sakit ini, tidak lain karena kunjungan seorang kawan dari Belanda yang bernama Marjolein dan dia mencari tahu info tentang Rumah Sakit ini yang mana pada masa Belanda digunakan sebagai RS Marinir dimana kakek dari Marjolein ini berdinas.

Akhirnya saya mencari info tentang RS ini di internet, tak banyak data yang didapat namun saya mendapatkan informasi berharga bahwa dr Urip Murtedjo membuat buku tentang sejarah berdirinya RS dr Soetomo dan kebetulan sekali beliau adalah ayah dari salah satu kawan baik saya Prasetyo Wibowo yang menjadi adik kelas saya sejak sekolah di HBS alias SMA 5 Surabaya hingga di ITS Surabaya, akhirnya saya bisa mendapatkan buku yang beliau tulis dan info bisa saya bagikan hingga para warga Surabaya tahu tentang sejarah gedung ini =)

Saat jalan jalan di Rumah Sakit ini, saya menemukan beberapa foto lama tertempel di dinding pada saat Rumah Sakit ini digunakan oleh Belanda dan saya pun berusaha mencari lokasi foto lama ini, berikut hasilnya :


Foto oleh : dr Mas Hermawan

Gedung Rumah Sakit ini dibangun diperkirakan pada tahun 1938, pada zaman itu disebut sebagai NIEUWE CBZ didirikan di Viaduct Straat berseberangan dengan gedung NIAS  (Nederlandsch Indische Artsen School , kini gedung FK Unair)

foto udara lokasi RSUD dan NIAS, scan dari buku Sejarah RS Karangmenjangan


NIEUWE CBZ ini dibangun untuk membantu OUDE CBZ /  RS Simpang  karena seringnya pasien membludak.


foto antrian di RS Simpang , scan dari buku Sejarah RS Karangmenjangan


Pembangunan NIEUWE CBZ ini terhenti pada 1942 saat Jepang masuk menguasai Surabaya dan menggunakan bangunan ini sebagai Rumah Sakit Kaigun (Angkatan Laut Bala Tentara Jepang) hingga tahun 1945.
Setelah Sekutu menguasai Surabaya pada akhir tahun 1945 maka NIEUWE CBZ kembali digunakan Belanda sebagai RS MARINIR dan dikenal dengan sebutan Marine Hospital Surabaya.

Pada tanggal 7 Agustus 1950. Marine Hospital Surabaya diserahkan kepada ALRIS (Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat) dan sejak tahun ini pula ditetapkan namanya menjadi Rumah Sakit Umum Pusat / RSUP dan dibawah Departemen Kesehatan RI. Sejak tanggal 20 Mei 1964 diganti nama menjadi RS dr Soetomo.

Dan didepan salah satu sisi RS ini ternyata saya menemukan penampakan ambulance antik, ternyata menurut informasi dari dr Urip Murtedjo, ambulance ini disebut sebagai ambulance sejarah karena digunakan sejak jaman RS Simpang / Oude CBZ.



Ditulis oleh : Ady Erlianto Setyawan,ST
087852412254

Mana Soerabaia Koe


Nanang Purwono adalah seorang pemerhati dan penikmat sejarah Surabaya. Dalam kesehariannya sebagai seorang Wapimred di stasiun TV milik Jawapos Group beliau selalu membawakan konten lokal dalam ide - ide kreatif program yang dibuatnya. Pada saat masih bertugas di divisi news, Nanang juga merupakan salah satu yang memprakarsai penggunaan bahasa lokal dalam pembacaan berita lokal.

Di waktu senggangnya, Nanang sering berkeliling kota Surabaya dengan kamera - kamera kunonya. Merk dan type-nya pun terdengar asing bagi orang kebanyakan. Misalnya TLR Yashica D dan Voigtlander Bessa II yang menggunakan format film ukuran 120mm. Dia bukanlah seorang fotographer profesional, hanya saja kecintaanya terhadap kenangan Surabaya masa lalu yang tampak indah dalam foto - foto lama menggugah hatinya untuk melakukan napak tilas dan mengabadikan kondisi terkini dari bangunan - bangunan peninggalan masa lalu.

Hasilnya adalah sebuah buku dengan judul "Mana Soerabaia Koe : Mengais Butiran Mutiara Masa Lalu". Merupakan sebuah buku yang bercerita tentang kisah Surabaya dari masa ke masa dan dihiasi oleh perbandingan foto lama dan foto baru. Buku ini merupakan apresiasi seorang warga kota yang peduli dengan mutiara masa lalu yang berupa bangunan tua dan tata kota yang nyaris terlupakan oleh sebagian besar warga kota.

Buku yang diterbitkan oleh Dinas Infokom Jatim pada tahun 2006 ini, selain berisi foto - foto lama juga terdapat beberapa peta Surabaya lama, jadwal trem listrik dan tabel jalur trem.

Meskipun mendapat dukungan dari beberapa tokoh masyarakat Surabaya seperti bapak Dr. Soenaryo.MSi (mantan Wagub Jatim), Prof.Dr. Aminuddin Kasdi, bapak Eddy Samson dan lain - lain, buku ini tidak dapat beredar di pasaran, melainkan menjadi aset dari pemerintah Propinsi Jatim.

Tim Roode Brug yang juga turut dalam proses pembuatan buku ini, hanya mendapat satu copy saja. Sangat di sayangkan jika buku semacam ini yang seharusnya dapat menjadi salah satu sumber informasi sejarah Surabaya, menjadi sulit diakses oleh masyarakat luas.

Oleh : Bagus Kamajaya

Senin, 22 November 2010

Kaos Bertema Sejarah Kota Surabaya

Design Sea, Land and Air Attack

Design logo Gementee01
Design Tram02
Design Tunjungan01
Design Bung Tomo01

Packaging
Design Thunderbolt


Design Lindeteves


Design Arisaka

Design Haven Kantoor



Jumat, 19 November 2010

Renungan Tentang Acara Symphony Untuk Bangsa

Tahun 1945 Pejuang2 Surabaya dengan ichlas
Mati demi Surabaya.

Mereka bersedia meninggalkan Istri, Anak, Harta Benda demi Surabaya.

Apakah kita yakin Pejuang Bangsa punya Pamrih pribadi? 

Tidak!

Seandainya kalau bisa mendengar apa keinginannya?

“Jagalah kotaku tercinta ini, kirimlah Do’a untukku.

Mohon perhatikan ahli warisku, jika Surabaya ini sudah merdeka”

Lalu sudahkah penghuni Surabaya memenuhi keinginan beliau?

Yang mencari kehidupan di kota ini, yang berwenang di Surabaya ini

Tetapi di sisi lain….

SYMPHONY UNTUK BANGSA sudah digelar bertahun-tahun

Segelintir anak-anak muda 

berjingkrak dengan minuman kerasnya..

Melempar batu
adalah keinginannya supaya ada yang masuk rumah sakit.

Merusak pagar,
tanaman, bangunan adalah kepuasan hati mereka.

Belum lagi nggrundelnya Polisi 

dan ribuan para pengguna lalu lintas yang mengalami kemacetan.

Lalu acara hanya lima jam 

sudah terbuang uang Ratusan Juta…

Ini bukan ulang tahun, tetapi peringatan matinya
sekitar 16.000 orang di Surabaya 1945

Kalau berkilah: lha duit itu dari sponsor kok!

Apakah pihak sponsor tersebut tidak bersedia memberi kalau bukan
acara symphony bangsa?

Tidakkah uang begitu besar
dimanfaatkan untuk monumen2 yang sudah retak-retak tak terurus.

Taman monumen yang
dijadikan buangan sampah, tempat jemuran karena pagarnya dirusak.

Atau mengadakan Doa bersama dari berbagai agama 

untuk Pejuang Bangsa,


Renungan2 diadakan kelompok2 kecil disetiap
titik monumen, music kroncong dengan hidangan Suroboyoan,


juga memberi hadiah untuk ahli warisnya yang meninggal
saat berperang.

Saya yakin itu akan
membuat pejuang bangsa tersenyum bahagia di Alam sana..

Dan MUNGKIN akan berpahala
di Hadapan Tuhan untuk mereka yang berwenang.

Tetapi mungkin
tulisan ini akan dilirik sebelah mata oleh mereka-mereka .

Gak masalah…Yang penting saya sudah lego ganjalan hati tersalurkan pada Tulisan ini...

( Merenung sendiri tgl 10 Nopember 2010 Jam 14.00 di Monumen Wirya Surya Wonokromo )


Ditulis oleh Yatim SBhakti 
Komunitas Surabaya Tempo Dulu 

======================================================================

demikianlah tulisan uneg uneg dari Pak Yatim
mungkin juga uneg uneg dari sebagian warga surabaya lainnya

laporan dr. Moh. Suwandhi, kepala kesehatan Jawa Timur  memperkirakan telah gugur 16.000 orang

laporan Kolonel dr. Wiliater Hutagalung memperkirakan, korban tewas akibat agresi militer Inggris dapat melebihi angka 20.000 ( buku Batara R Hutagalung "mengapa Inggris membom Surabaya" )

berapapun itu....ribuan darah para pembela kehormatan bangsa telah tertumpah dibumi Surabaya pada tahun itu



pertempuran mempertahankan jembatan Wonokromo mengakibatkan gugurnya seorang pejuang artilleri pengguna tekidanto dari Jawa Tengah, dia seorang diri mempertahankan jembatan itu dan tak mau mundur hingga akhirnya dia gugur oleh artilleri Inggris, tubuhnya hangus terbakar dalam keadaan tetap memeluk tekidantonya, tubuh yang hangus itu hingga beberapa hari tetap berada diujung jembatan dan dapat dilihat oleh penduduk yang lalu-lalang....tak ada yang tahu nama pemuda itu...  ( catatan Soetomo )

ditempat lain...benteng pertahanan kedungcowek...diperkirakan lebih dari sepertiga pasukan sriwijaya yang mempertahankan benteng itu gugur, karena serangan Inggris yang dahsyat maka banyak yang ditinggalkan begitu saja saat pasukan ini mundur.....pasukan sriwijaya ini banyak yang berasal dari sumatera ( catatan Batara R Hutagalung )

mereka pemuda pejuang yang datang bahkan dari tempat yang sangat jauh

mereka tak mengenal siapa kita arek arek Surabaya

namun panggilan hati sebagai sesama putra bangsa

demi sebuah kehormatan Negara Indonesia yang ditantang, diinjak dan dilecehkan, diminta berbaris menyerahkan senjata sambil mengangkat tangan untuk dijajah kembali....

mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing

sejauh mana kita menghargai mereka? 

pahlawan pahlawan tanpa nama

berguguran tanpa nisan

namun apalah arti nisan bagi mereka

mereka telah meninggalkan segala yang mereka punya 

untuk berlaga di Surabaya

mari kawan kita renungkan ....... 


Ady Erlianto Setyawan, ST
087852412254




Kamis, 18 November 2010

Pameran Wadjah Lama Soerabaia


 Ada yang menarik di hari Kamis tanggal 18 Nopember 2010 di Graha Wismilak Jalan Dr.Sutomo 27 Surabaya. Siang itu tampak tenda - tenda bertuliskan merk rokok Wismilak di gelar di depan pintu masuk gedung yang merupakan bagian dari cagar budaya kota Surabaya itu.
Inilah saat pembukaan pameran foto Wadjah Lama Soerabaia yang merupakan koleksi langka milik Bapak Said Faisal Basymeleh. Pameran itu merupakan hasil kerja bareng antara Surabaya Heritage yang dipimpin oleh Bapak Freddy H. Istanto dan Tim 11 Von Faber yang pada kesempatan ini diwakili oleh Bapak Eddy Samson.

"Saya punya koleksi foto semacam ini ratusan, tapi pak Said punya ribuan !.." cerita pak Eddy kepada saya siang itu. "Dan jangan juga dilupakan, mengapa kita memilih tempat ini, karena ini adalah bekas markas Polisi Istimewa yang merupakan kesatuan satu-satunya yang masih bersenjata pada waktu Jepang menyerah kepada sekutu, dan merupakan peran yang sangat penting dari  Polisi Istimewa dalam memimpin rakyat Surabaya untuk melucuti senjata milik Jepang" kata pak Eddy lagi.

Bersama Pak Eddy Samson


Pada kesempatan ini pameran dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Bapak Saifullah Yusuf dan dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Surabaya ibu Wiwiek Widayati.

Gus Ipul Menandatangani Foto
Dari Kiri : Pak Eddy Samson (Tim 11 Von Faber)
Pak Said - Pemilik Koleksi
Gus Ipul (Wagub Jatim) & Pak Freddy (Surabaya Heritage)

Tidak ketinggalan presenter yang suka 'blakra'an ' disekitar situs cagar budaya Surabaya, Cak Eko Albaroyo yang secara spontan menginterview Gus Ipul ditengah - tengah acara peresmian.

Pameran ini digelar mulai tanggal 18 hingga 25 Nopember 2010, tentunya sangat menarik perhatian banyak kalangan pecinta sejarah di kota Surabaya ini. Meskipun pada hari pembukaan hanya beberapa undangan saja yang mempunyai undangan resmi, namun banyak hadirin yang ternyata menyempatkan waktu untuk dapat menikmati suasana Surabaya tempo dulu di Graha Wismilak yang dulu beralamat di Coen Boulevard ini.

Bersama Cak Eko Albaroyo

Bung Ady, Bung Sugio & neng Intan dari Surabaya Re-enactor









































Oleh : Bagus Kamajaya

Rabu, 17 November 2010

Polisi Istimewa & Pertempuran Surabaya

Monumen Polisi Istimewa
Andil Polisi Istimewa dalam mempertahankan kedaulatan negara adalah sangat besar. Pada jaman pendudukan Jepang, kesatuan ini disebut ‘Tokubetsu Keisatsu Tai’, sebuah pasukan yang terlatih dengan kemampuan tempur yang tinggi.
Selain Tokubetsu Keisatsu Tai, pihak militer Jepang juga membentuk pasukan yang terdiri dari orang-orang pribumi yaitu Heiho dan pasukan yang terpisah dari kesatuan tentara Jepang yaitu PETA ( Pembela Tanah Air). 
Setelah proklamasi dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, penduduk Surabaya tidak dapat langsung mendengar berita tersebut. Jepang dengan liciknya membubarkan Daidan PETA di Gunungsari Surabaya dan Heiho tanpa memberikan informasi tentang kekalahan Jepang di perang Asia Timur Raya. Baru pada tanggal 19 Agustus 1945 penduduk Surabaya mengetahui proklamasi kemerdekaan dari surat kabar Soeara Asia.
http://www.museum.polri.go.id/sejarahpolri_penddukn-jepang.html
Satu-satunya pasukan yang berdaya tempur tinggi dan masih memiliki senjata di wilayah Surabaya adalah Polisi Istimewa di bawah pimpinan Moh. Jasin. Meskipun demikian masih ada kemungkinan Jepang akan melucuti persenjataan Polisi Istimewa ini. Mantan Daidancho Gresik, drg. Moestopo segera megutus mantan Shodancho Abdurahman untuk menemui kepala polisi Moh.Jasin agar tidak tertipu oleh siasat Jepang untuk melucuti pasukannya.
Pada hari Selasa, 21 Agustus 1945, pukul 07.00. Semua anggota kesatuan Polisi Istimewa, sekitar 250 orang, berkumpul untuk mengikuti apel di halaman depan markas Polisi Istimewa, Jalan Coen Boelevard, Surabaya –kini Jalan Polisi Istimewa. Setelah pengibaran bendera Merah-Putih, Inspektur I Moehammad Jasin membacakan proklamasi:
“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Republik Indonesia.”
Usai membacakan proklamasi, Jasin meminta semua anggota polisi melakukan pawai siaga untuk menunjukkan kekuatan dan kesiapan tempur, menghadapi reaksi pihak Jepang. Menggunakan kendaraan lapis baja dan truk yang telah dipasangi bendera Merah-Putih, bergerak menuju Jalan Tunjungan, Surabaya.
Proklamasi itu diketik kemudian disebar dan ditempel di tepi jalan besar. Proklamasi itu mendorong bekas pasukan bersenjata Heiho dan Pembela Tanah Air (PETA) yang telah dibubarkan untuk mengambil-alih atau melucuti senjata Jepang.
http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=172190&page=5
 PRI terlibat dalam upaya penyerangan dan perampasan senjata-senjata Jepang. Dalam penyerbuan ke gedung Kempetai, yang merupakan benteng pertahanan Jepang, Jasin berunding dengan komandan Kempetai. Bila Kempetai menyerah dia akan menjamin keselamatan mereka. Para pejuang pun mengambil senjata-senjata Jepang yang tersimpan di gudang-gudang persenjataan mereka. PRI juga menyerbu persenjataan Angkatan Laut Jepang di Embong Wungu, Gubeng, yang berakhir dengan penyerahan persenjataan yang ditandatangani Jasin, sebagai wakil dari Indonesia. Penyerahan senjata itu kemudian diikuti kesatuan militer Jepang lainnya. termasuk penyerahan senjata di gedung Don Bosco, Jalan Tidar, gudang arsenal tentara Jepang terbesar di Asia Tenggara, di mana Jasin dibantu oleh Bung Tomo. Kota Surabaya sepenuhnya berada di bawah pengawasan kekuatan perjuangan PRI.
Dengan senjata itu, Moehammad Jasin memimpin langsung pasukan PRI untuk menghadapi pasukan Inggris dan Belanda, yang mendarat di Tanjung Perak Surabaya, 25 Oktober 1945.  PRI terlibat dalam Insiden Bendera di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945 dan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pasukan PRI menunjukkan kepemimpinan dan kepeloporannya, yang pantang mundur. Jasin mendorong pasukannya agar melancarkan serangan dan melindungi pasukan organisasi perjuangan lain yang bergerak mundur ke pinggiran kota. Dia menggunakan strategi perang gerilya.


Monumen Polisi Istimewa dari arah gedung Wismilak
Gedung Wismilak yg pernah digunakan sebagai markas Polisi Istimewa
“Pembela Tanah Air (PETA) yang diharapkan memberi dukungan pada perjuangan rakyat telah dilucuti senjatanya oleh tentara Jepang. Untung ketika itu M. Jasin tampil memimpin Pasukan Polisi Istimewa yang berbobot tempur militer untuk mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya,” ujar Bung Tomo, pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
Pada 14 November 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir mengganti Polisi Istimewa menjadi Mobile Brigade (Mobrig) –kemudian disesuaikan namanya dengan tata bahasa Indonesia menjadi Brigade Mobil (Brimob), pada 1961. Tanggal itu ditetapkan sebagai hari jadi Korps Baret Biru, nama lain Brimob. Moehammad Jasin, kelahiran Bau-bau, Buton, Sulawesi Selatan tanggal 9 Juni 1920, berperan dalam pembentukannya, tugas yang diberikan Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodimodjo. Saat itu dia menjabat Kepala Kepolisian di Karesidenan Malang. Tak salah jika Moehammad Jasin diangkat sebagai Bapak Brimob Kepolisian RI. Kesatuan ini sejak awal terlibat dalam menghadapi berbagai gejolak di tanah air.

Prasasti yg terdapat di dalam gedung Wismilak
Oleh : Bagus Kamajaya
Sumber : Memoar Moehammad Jasin