Friday , November 24 2017
Home / Article / Nostalgia Srimulat Surabaya.
srimulat anyar

Nostalgia Srimulat Surabaya.

Grup lawak yang dikenal dengan nama ‘Srimulat’ tidak lepas dari nama Kho Tjien Tiong pada tanggal 8 Agustus 1926 di Klaten Jawa Tengah. Ya, dialah Teguh Slamet Rahardjo yang dikemudian hari menikahi Srimulat seorang penyanyi dari group ketoprak Bintang Timur.
Setelah teguh dan Srimulat menikah di Solo, mereka memutuskan membentuk kelompok sandiwara Gema Malam Srimulat, dengan mengusung konsep dagelanMataram. Di penghujung tahun 1960, Gema Malam Srimulat pentas di Pekan Raya Surabaya, yang kemudian berubah nama menjadi Taman Hiburan RakyatSurabaya. Berkat kegigihan teguh, kelompok ini berhasil berhasil menjadi pengisi acara tetap di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Dan untuk memberi suasanabaru, Teguh mengganti nama Gema Malam Srimulat menjadi Srimuat Review.

srimulat

Srimulat Review terus bersinar, musik dan penyanyinya memikat, lawakan gaya dagelan Mataramnya memukau dan anggotanya terus membengkak. Akhirnyapada tahun 1963, Srimulat Review berubah nama menjadi Aneka Ria Srimulat yang menyajikan beragam nyanyian dan lawak dengan tetap mempertahankan cirikhas Srimulat.

Tahun 1969 Srimulat, istri Teguh Wafat, kemudian Teguh menikahi Djudjuk Djuwariyah, seorang penyanyi dan penari jawa. Dalam perkembangannya,kelompok Srimulat mendirikan panggung-panggung tetapnya di Surabaya, Solo, Semarang, dan Jakarta. Selama kurun waktu tahun tujuh puluhan hingga tahundelapan puluhan. Srimulat berhasil mengukuhkan dirinya sebagai kelompok lawak yang sukses dengan Djudjuk sebagai penyanyinya.

Pada tahun 1971, Teguh Slamet Rahardjo pernah terpilih menjadi panitia perumus untuk Anggota Dewan Kesenian Surabaya. Ia ditunjuk lewat sebuah konvensi seniman Surabaya yang menjadi program Pemda Surabaya yang langsung dipimpin oleh Walikota, bapak Soekotjo. atas hal itu, pak Teguh tercatat sebagai peletak pon…dasi pertama didirikannya program Dewan Kesenian Surabaya yang dimulai pada tahun 1971.

Pak Teguh pernah membuat perusahaan film bernama Srimulat Film Corporation pada tahun 1973 di Surabaya. Produksi film pertamanya berjudul Mayat Cemburu, yang diperankan oleh Paimo. Johny Gudel, Sumiati, Karjo AC-DC. Edi Geyol dan Bandempo.
Namun, ketika Srimulat Film Corporation memproduksi film Walang Kekek, terjadi kasus yang menghentikan proses pascaproduksi. Masalahnya, film tersebut yang dikirimkan ke Hongkong untuk diproses cetak justru tidak kembali ke Indonesia. Film tersebut disandera dan dinyatakan hilang. Pak Teguh sempat pusing dengan kasus tersebut. belakangan hari, ada seseorang yang menawarkan copy film tersebut di Indonesia. Sayangnya belum sempat di tangan yang benar, orang tersebut mengilang tanpa jejak. Walang Kekek adalah film buatan Pak Teguh yang hingga detik ini, keberadaannya masih misterius.

Walikota Surabaya, pada waktu itu, bapak Soekotjo pernah mencoba mendamaikan masalah pertengkaran anak buah yang dipimpinnya dengan para pemain Srimulat, bahkan hampir naik ke meja hijau, namun tidak sempat terjadi. Alasannya, ia menganggap Srimulat adalah aset kota yang harus dijaga dan dilestarikan

Srimulat Surabaya pernah membuat kesebelasan Galatawa yang inti pemainnya adalah para pemain Srimulat. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kejenuhan pentas panggung dan mendapatkan penghasilan lain di bidang olahraga. Tentu saja bukan olahraga serius yang mereka pertunjukkan, namun sebuah pola parodi yang dikembangkan menjadi tontonan hiburan keliling daerah dengan menggunakan lapangan sepakbola.

srimulat anyar
Dalam usahanya melestarikan kesenian lawak gaya Srimulat ini, sebuah televisi swasta nasional melakukan audisi pemain Srimulat. Yang tersisa dari pemain Srimulat Surabaya hanya tinggal sedikit saja. Pada sebuah kesempatan, komunitas Sjarikat Poesaka Soerabaia mengunjungi gedung Srimulat di Taman Hiburan Rakyat Surabaya untuk nonton bareng pertunjukan yang semakin dirindukan oleh penontonnya.

sumber: “Srimulat: Aneh Yang Lucu”, persembahan XL Bagi Negeri, disusun oleh Sony Set dan Agung Pewe (Metagraf 2011).

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

Roodebrug Surabaya memperingati korban era bersiap

Moralitas adalah memiliki perasaan mana yang benar atau salah

Surat terbuka kepada Kepala OGS ( Oorlogsgravenstichting ) di Indonesia, Robbert van de Rijdt Pengirim …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *