Home / Article / Sepak Terjang Batalion Djarot Subijantoro
Patung Mayangkara

Sepak Terjang Batalion Djarot Subijantoro

Jika kawan-kawan masuk kota Surabaya dari arah bundaran waru, maka ketika sampai di jembatan layang depan Rumah Sakit Islam, kawan-kawan dapat melihat sosok patung pahlawan yang berdiri gagah menunggangi seekor kuda putih miliknya, siapakah sosok pahlawan ini? bagaimana kisah dan sepak terjangnya dalam masa perang kemerdekaan ? mari simak kisahnya berikut

Pada minggu-minggu pertama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, untuk menjaga keamanan di Kota Surabaya dibentuk Badan Keamanan rakyat atau BKR, dengan pimpinan Soengkono. Untuk melaksanakan tugas menjaga keamanan dibutuhkan suatu pasukan bersenjata api yang orang-orangnya mahir menggunakan senjata itu. Maka dibentuklah barisan bersenjata dibawah pimpinan R. DJAROT SOEBIJANTORO dari jibakutai (Pasukan Berani Mati Jepang). Barisan ini kemudian dinamakan barisan penyerbu atau BP, sedang anggota-anggotanya terdiri dari anak buah Jibakutai dulu, ditambah para pelajar, heiho dan arek-arek Suroboyo lainnya. Barisan ini menjadi bayangkari di markas BKR Surabaya yang berkedudukan di Jalan Cendana (sekarang Jl Kombespol M Duryat)

Ketika BKR pada tanggal 5 Oktober 1945 dilebur menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Barisan Penyerbu dilantik dan diresmikan menjadi Kompi Barisan Penyerbu TKR Divisi VII yang memiliki anggota kira-kira 300 orang, 70% diantaranya bersenjata yang didapat dari perampasan terhadap tentara Jepang.

Karena mengalami gempuran-gempuran hebat dari musuh, markas pertahanan Surabaya terpaksa berpindah-pindah tempat, demikian juga markas Komando kompi BP dari jalan Cendana pindah ke taman Bungkul, Wonokromo, Pabrik Gula Tulangan, Kedurus, Mlaten, Sepanjang, Bambe, Driyorejo hingga Perning. Selama itu kompi BP selalu menjadi tulang punggung kekuatan dari markas pertahanan Surabaya dan ikut berpindah-pindah.

Dalam sejarah perjuangan Batalyon Mayangkara sejak pecah revolusi, terutama pada sebelum tercapainya kembali Kedaulatan Republik Indonesia, banyak peristiwa yang mengharukan, perjuangan dengan penuh semangat patriotik dan terkadang terpaksa jatuh korban, yang tidak sempat tercatat, atau catatannya hilang dan terbakar. Namun, beberapa peristiwa masih dapat diceritakan oleh mereka yang mengalaminya. Berikut adalah catatan penting yang bias diingat:

  1. Pada waktu bertempur melawan tentara Inggris dengan Gurkhanya di tengah Kota Surabaya, anak buah batalyon mayangkara berhasil menghancurkan dua buah truk penuh dengan pasukan gurkha di Palmenlaan (sekarang Jalan Panglima Sudirman) hingga timbul banyak korban di pihak musuh. Pada waktu itu pemuda Djarot Soebijantoro sendiri dengan beberapa pengikutnya ikut terlibat langsung.
  2. Diantara pertempuran yang besar dan terkesan terjadi di di Sektor Benjeng. Waktu itu musuh tidak dapat menerobos pertahanan Batalyon Mayangkara. Pertempuran hebat terjadi terus menerus selama 11 jam, sejak jam 07.00 hingga 18.00. Musuh gagal merebut Sektor Benjeng.
  3. Dari tanggal 5 Mei 1946 hingga Januari 1947 terjadi 17 kali pertempuran besar. Pertempuran ini ada yang dahsyat dan memakan waktu lama. Beberapa diantaranya berlangsung antara 6 hingga 8 jam. Sedang pergokan dan bentrok senjata dengan patrol musuh hampir terjadi 3-4 kali pada tiap minggu.
  4. Pasukan Mayangkara selama menguasai Sektor Perning/Bambe hingga Sektor Mantup/Benjeng, hampir tiap minggu mengadakan penyerangan. Lebih-lebih waktu Batalyon Mayangkara di bawah Komando taktis Letnan Kolonel Soerachmad, Komandan Resimen Kediri, penyerangan terhadap musuh ditingkatkan hampir tiap malam. Tiga kali tercatat sebagai hasil gemilang adalah:

Pertama             : Pada Bulan Januari 1946 berhasil menyerbu kubu pasukan Inggris di Bambe (Sepanjang-Meganti) dan membunuh sekitar 60 orang serdadu Inggris dan Gurkha.

Kedua                 : Pada Bulan April 1946 berhasil menduduki kubu Belanda di sekitar Cerme (Benjeng-Cerme) selama 4 jam.

  1. Pada waktu Madiun Affair PKI 1948, sebanyak tiga kompi Batalyon Mayangkara ditugaskan di Madiun dan Bojonegoro untuk menumpas PKI. Sedang kompi lainnya mempertahankan sektor yang panjangnya sekitar 30 kilometer. Pasukan Batalyon Mayangkara yang ditugaskan di Madiun berhasil merebut sentral tenaga listrik dan merebut sejumlah senjata dan kendaraan PKI, antara lain sepucuk senjata 12,7 tiga pucuk senjata 7,7 , tiga pucuk mortar dan senjata otomatis lainnya. Yang bertugas menumpas PKI yang lari dari Madiun, juga bertugas sebagai pasukan pengejar.
  2. Pada tanggal 21 Desember 1948 Belanda melakukan serangan besar-besaran menyerbu Yogyakarta. Penyerbuan dilakukan dengan pasukan udara dan membom pusatpusat pertahanan TNI, termasuk Batalyon Mayangkara. Sejak itu kompi-kompi Batalyon mayangkara berpencar dan melakukan perang gerilya di daerah Kota Surabaya, Surabaya Barat, utara dan daerah Bojonegoro bagian selatan. Perwira dan bintara banyak yang ditempatkan di daerah antara Bojonegoro Selatan sampai Kota Surabaya yang merupakan Kepala Pemerintahan Militer dengan hasil yang baik, terutama dalam bentuk “Pagar Desa” dan “Pertahanan rakyat”.
  3. Batalyon Mayangkara sejak persetujuan renville februari 1948 hingga pengakuan kembali kedaulatan Pemerintahan Republik Indonesia oleh Belanda Desember 1949, selain bertugas sebagai penyerang terdepan dan mempertahankan kedudukannya, juga bertugas sebagai territorial.
  4. Pada tanggal 20 Januari 1949 berhasil menghancurkan dua truk penuh dengan pasukan Belanda, terkena pasangan ranjau di Ngimbang yang dipasang oleh anggota Batalyon Mayangkara.
  5. Pada tanggal 9 Mei 1949 gerilyawan Batalyon Mayangkara menyergap patrol belanda di selatan Bojonegoro antara desa Sidorejo – Kedungadem. Tigabelas orang musuh tewas dan delapan orang luka-luka.
  6. Pada tanggal 23 Mei 1949 terjadi pertempuran antara 3 Kompi Corps Marinier/ Gajah Merah Belanda melawan 5 seksi Batalyon Mayangkara selama tujuh jam. Pertempuran di Kedungadem ini pihak belanda menderita kerugian 45 orang tewas, diantaranya 2 opsir, dan 20 lainnya luka-luka. Keterangan ini diperoleh menurut catatan PMI. Sedang pihak gerilyawan menderita kerugian 6 orang gugur diantaranya seorang perwira dan seorang bintara.
  7. Pada Bulan Agustus 1949 Batalyon Mayangkara menerobos masuk Kota Surabaya sebanyak dua kompi bersenjata lengkap dengan mengenakan pakaian seragam lengkap.
  8. Catatan kerugian yang diderita Batalyon Mayangkara sejak 10 September 1945 sebagai berikut:
  1. Tenaga                 : Kurang lebih 200 orang prajurit gugur
  2. Senjata                 : Senjata yang dibinasakan sendiri pada waktu Agresi II:

1 pucuk A.A.C. 2 cm

2 pucuk motier

1 pucuk A.A.C. 4 cm (kanon)

1 pucuk K.M hancur bersama pemegangnya dalam pertempuran tanggal 23 Mei 1949

1 pucuk pistol

3 pucuk karabyn

  1. Kendaraan           : 1 truk terbakar karena tembakan dari udara/pesawat terbang sebelum perjanjian Renville

2 sedan dirampas musuh pada waktu Agresi Militer II

1 sedan terbakar kena tembakan dari udara di Benjeng.

  1. Dengan adanya reformasi banyak batalyon mengalami peleburan dan anggotanya dimasukkan ke batalyon yang tidak dilebur. Namun Batalyon Mayangkara sebegitu jauh tetap utuh berdiri, bahkan ditingkatkan menjadi Batalyon Ridder dengan nama baru:

“Batalyon Infanteri lintas Udara 503 mayangkara”

“Brigade Infanteri Lintas Udara 18/ trisula” dan bermarkas Komando di Mojosari, Kabupaten Mojokerto, hingga sekarang.

Ketika pasukan ini pertama-pertama dibentuk, sesuai dengan kebutuhan dan tugasnya waktu itu, dinamakan Barisan penggempur atau terkenal dengan singkatan BP. Selanjutnya nama itu melekat sampai terbentuk menjadi batalyon.

Pada awal terbentuknya menjadi Batalyon pada tanggal 9 Desember 1945, seperti layaknya pasukan saat itu, batalyon tadi disebut menurut nama komandannya, yakni BATALYON DJAROT.

 

Pada tanggal 5 Mei 1946, Batalyon Djarot dipindah dan selanjutnya berkedudukan di mantup. Di daerah ini tugasnya yang terpenting adalah membentengi markas Pertahanan Surabaya di wilayah utara. Selain membendung serangan musuh dari timur (Kota Surabaya), juga berusaha mengacau pertahanan musuh. Jelaslah untuk itu dituntut pasukan yang giat dan kewaspadaan yang tinggi.

Dua bulan setelah berada di daerah Mantup, pada bulan Juli 1946, Mayor Djarot mendapat hadiah dari Kepala Daerah Mantup seekor kuda berwarna putih bernama  MAYANGKARA. Mengapa kuda yang bagus itu dihadiahkan kepada Komandan Batalyon Djarot? Konon Kepala Daerah Mantup sebelumnya bermimpi kedatangan seorang pendeta yang mengatakan bahwa kuda peliharaannya itu harus diberikan kepada seorang pemimpin pertempuran yang ada di daerah itu. Agaknya terjadi sambung rasa antara yang memberi dan yang diberi. Sebab, menurut pengakuannya, Mayor Djarot pada waktu itu juga bermimpi kedatangan seorang raja mengendarai kuda berwarna putih, sang Raja kemudian memberikan kuda tunggangannya, dengan pesan agar kuda tadi dipergunakan untuk memimpin barisan.

 

kondisi sebelum dibangun monumen (1982)

 

foto saat awal didirikan pada Januari 1985

DESKRIPSI MONUMEN MAYANGKARA

  1. Patung kuda bernama Kuda Mayangkara yang berwarna putih mulus. Nama tersebut berasal dari cerita pewayangan sebagai seorang resi mayangkara, penjelmaan dari hanoman sebagai senopati sakti Panglima perang.
  2. Yang naik diatas kuada adalah patung dari pahalwan R. DJAROT SOEBIJANTORO Letnan Kolonel Inf. TNI AD. Komandan batalyon pertama berasal dari pasukan Penyerbu Ex kompi DJAROT cikal bakal lahirnya Batalyon 503 Mayangkara di Kota Pahlawan Surabaya.
  3. Lantai pertama tempat landas kuda Mayangkara berbentuk segi empat (4). Stupa sebagai pondasi tegak dari monumen yang tingginya 6.40 m berbentuk segilima (5). 4 dan 5 memberi artiexponen Angkatan 45 yang masih tegar setia membela Proklamasi 17 Agustus 1945, membela Negara Kesatuan republic Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
  4. Lima (5) lorong yang masuk ke stupa Monumen diartikan sebagai 5 sila Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan Ideologi Perjuangan Angkatan 45 di dalam pengabdiannya melestarikan jiwa semangat dan nilai-nilai 45 bagi generasi penerus.
  5. Bagian depan adalah lambang Kesatuan batalyon Inf. 503 mayangkara yang sekarang menjadi Batalyon Inf. Lintas Udara Mayangkara Brig. Inf. 18 Ttri sula
  6. Relief yang diukir pada dinding sisi kanan kiri adalah sejarah singkat batalyon DJAROT 503 Mayangkara sejak lahirnya di Kota Surabaya dan kembali menerobos pertahanan belanda mulai 12 Juli 1949 masuk Kota Surabaya.

SEJARAH SINGKAT BATALJON DJAROT DALAM RELIEF

  1. Peristiwa pertempuran di Palmenlaan Surabaya pada tanggal 28 Oktober 1945 (sekarang Jalan Jend. Soedirman/ Sonokembang).
  2. Konsolidasi Batalyon III DJAROT di perning Modjokerto pada tanggal 9 Desember 1945.
  3. Penghancuran kendaraan tank Belanda di desa Morowudi benjeng pada tanggal 5 Mei 1946.
  4. Pertempuran frontal di daerah gerilya Kedungadem melawan pasukan Belanda batalyon Gajah Merah. Korban pihak Belanda sebanyak 45 orang tewas dan 20 luka-luka. Korban pihak Indonesia gugur sebanyak 6 orang, terjadi pada tanggal 25 mei 1949.
  5. Bataljon DJAROT menerobos pertahanan belanda memasuki Kota Surabaya pada tanggal 12 Juli 1949.
  6. Bataljon DJAROT diresmikan menjadi Batalyon 503 mayangkara Lintas Udara Brigade trisula kostrad.

ARTI LAMBANG MAYANGKARA

Sebagai tanda kesatuan dari batalyon mayangkara maka bendera/tunggul batalyon adalah tunggul mayangkara. Dan bagi semua anggota batalyon Mayangkara dibuatlah lencana/badge yang harus dipakai dibaju lengan sebelah kiri seragam. Lencana tersebut berbentuk perisai, sebagai symbol tentara dan mempunyai arti sebagai berikut:

–     Tentara adalah perisai Negara

–     Berwarna merah yang berarti berani

–     Dengan tulisan yang berbunyi Mayangkara; adalah nama berdasarkan sejarah seorang Resi/ Senopati sakti.

–     Di tengah adalah gambar kuda putih bernama Mayangkara yang beriwayat dan mengandung banyak arti serta menjadi simbol.

–     Di atas kuda dilukis sebuah bintang sudut lima warna putih, menggambarkan adanya lima Sila, yaitu pancasila satu-satunya azas dasar Negara Republik Indonesia.

Maka terbaca secara keseluruhan: “Merupakan tentara yang gagah berani, bertindak jujur dengan pendirian kebenaran dan keadilan yang bersendikan pancasila sebagai perisai Negara dan bangsa.” Lencana ini dibuat dan dipakai sejak tanggal 17 Agustus 1949 saat memasuki Kota Surabaya.

Demikian artikel ini ditulis, terimakasih kepada Bapak Suparto Barata sebagai narasumber, semoga generasi muda Surabaya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya tidak pernah melupakan jasa jasa pahlawan besar kota ini =)

 

Bapak Suparto Barata sebagai narasumber

ditulis oleh : Abigail Niendy .

foto : Angga Airlangga

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

Monumen Status Quo

Monumen Status Quo

Monumen ini dibuat untuk mengenang perjuangan TNI, Polisi dan rakyat pada saat pertempuran yang heroik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *