Saturday , October 21 2017
Home / Article / Wisata Sejarah Napak Tilas Kejuangan HR Muhammad dan TD Kundan
depan-pabrik

Wisata Sejarah Napak Tilas Kejuangan HR Muhammad dan TD Kundan

Hari minggu yang cerah tanggal 10 Juni 2012, untuk kesekian kalinya RoodeBrug Soerabaia mengadakan wisata sejarah dan kali ini  mengenang perjuangan HR Muhammad dan TD Kundan, dua pemuda yang pernah merasakan berada dalam Gedung Internatio yang saat itu digunakan sebagai markas tentara Inggris , merasakan berada dalam kandang singa, bagaimana kisah para pahlawan ini ? mari ikuti ulasan berikut 🙂

pembukaan oleh Nindy sebagai MC acara. foto: Silvia
peserta berkumpul di parkir Mandiri Jl Rajawali. foto: Silvia
perkenalan Pak Sufyan selaku wakil dari Yayasan Dompet Dhuafa. foto: Silvia
bersiap untuk berangkat. foto: Silvia

Jam 07.00 WIB setelah semua peserta berkumpul dan persiapan berangkat dari parkiran Bank Mandiri Jl Rajawali, setelah acara dibuka oleh mbak Nindy selaku MC acara dilanjutkan dengan perkenalan dari Bapak Shufyan selaku perwakilan dari Dompet Dhuafa Surabaya, dimana sebagian dana yang terkumpul dari acara ini didonasikan kepada Dompet Dhuafa.

setelah acara dibuka dan peserta pun bergerak menuju Bank Escompto yang kini telah menjadi Bank Mandiri Jl Kembang Jepun Surabaya

menyeberangi RoodeBrug menuju Escompto. foto : Rakhmad Yuliantono

PERHENTIAN I :

BANK ESCOMPTO

kunjungan istimewa Sesmenkokesra Prof Indroyono selaku cucu langsung dari HR Muhammad

Pertama kita tengok dulu sejarah kebelakang, kisah peranan Bank ini sangat jarang orang yang tahu bahkan mungkin orang Surabaya itu sendiri, padahal Bank ini memegang peranan yang sangat penting dalam pertempuran Surabaya melawan Inggris tahun 1945.

Dalam sebuah pertempuran ada dua elemen yang memegang peranan sangat penting yaitu DANA PERANG dan PERSENJATAAN, dana persenjataan didapatkan dari Tangsi Don Bosco yang dikenal sebagai gudang arsenal senjata jepang terbesar se Asia Tenggara, sedangkan DANA PERANG didapatkan di gedung ini, Bank Escompto yang kini menjadi Bank Mandiri.

Penggedor Bank ini adalah HR Muhammad yang mendapatkan info dari dr Samsi selaku Menteri Keuangan pada masa itu dan berangkatlah HR Muhammad bersama para saksi diantaranya S Arifin dari wartawan Antara, selanjutnya mereka semua memindahkan uang yang berpeti peti banyaknya dengan menggunakan Truk, uang yang berhasil dikumpulkan sebanyak 100 juta Gulden, 35 juta Gulden diberikan kepada Presiden Soekarno selaku pimpinan pusat, sisanya digunakan untuk persiapan dana pertempuran Surabaya untuk pengorganisiran dapur umum, logistik, transportasi, medis dan sebagainya

sedangkan untuk aksi perebutan senjata dari tangsi Don Bosco yang dilakukan bersama sama oleh HR Muhammad, Bung Tomo dan Suhario akan kita bahas dalam event jalan jalan selanjutnya 🙂

Pak Tri selaku Kepala Cabang Mandiri memberikan sambutan. foto: Surya
Pak Tri memberi penjelasan koleksi museum Bank Mandiri. foto: Surya
menaiki lantai 2 Escompto

setelah puas mendapat penjelasan dari Pak Tri selaku Kepala Cabang Bank Mandiri dan puas menikmati koleksi-koleksi museum Bank Escompto mulai dari arsip, surat perjanjian, brankas kuno, mesin ketik kuno hingga data pegawai Escompto menjelang masuknya Jepang d Indonesia, para peserta naik ke lantai 2 dan mendengarkan penjelasan dari Prof Indroyono, Sesmenkokesra RI yang juga merupakan cucu langsung dari HR Muhammad

Prof Indroyono yang bersedia meluangkan waktu berbagi kisah. foto: Surya
Prof Indroyono memberi penjelasan pertempuran Internatio Jembatan Merah.foto: Silvia
foto HR Muhammad yang terpasang di dinding Bank Mandiri.foto: Surya

PERHENTIAN II :

JEMBATAN MERAH – INTERNATIO

Kisah pertempuran dan tewasnya Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945 dibahas disini, dalam sejarah perang dunia II, tak pernah sekalipun Inggris kehilangan Jenderalnya, namun dalam perang Surabaya mereka harus kehilangan 2 Jenderal dan diperkirakan 600-2000 pasukannya tewas, sedang di Indonesia diperkirakan 16.000 hingga 20.000 korban.

Didalam gedung inilah TD Kundan dan HR Muhammad menjadi sandera tentara Inggris pada pertempuran 30 Oktober 1945 yang menewaskan Mallaby, TD Kundan sebagai penerjemah memahami pembicaraan perwira Gurkha yang bernama Mayor Ghopal kepada pasukannya untuk bersiap menyerang, musuh tidak menyadari bahwa ternyata Kundan memahami bahasa India. Lalu Kundan mengajak HR Muhammad untuk bersiap lari keluar gedung karena dalam 10 menit keadaan akan kacau, namun ajakan ini ditolak dengan jawaban “saya disini sebagai militer,saya diperintahkan sebagai perwakilan,saya tidak bisa melawan perintah, jika anda mau keluar silahkan saja”

Akhirnya perangpun sungguh meletus dalam 10 menit sesuai apa yang didengar Kundan, Muhammad ditawan,sedangkan Kundan yang berhasil keluar ruangantidak bisa lari keluar gedung karena tembakan yang sangat gencar dari kedua belah pihak.

Dwi Fatrianto menyampaikan materi sejarah pertempuran. foto: Surya
Rifkhi menyampaikan materi sejarah Internatio semasa jaman kolonial.foto: Surya

PERHENTIAN III :

PABRIK SIRUP TERTUA INDONESIA

Cerita tentang Kundan berlanjut di Pabrik ini, setelah pertempuran mereda dan hari mulai gelap, Kundan berlari kearah selatan Gedung Internatio, tembakan tentara Inggris dari arah gedung Internatio pun gencar diarahkan kepadanya, untuk menyelamatkan diri, Kundan berlari memasuki gang sempit yang kemarin juga dinapak tilas oleh para peserta jalan jalan hingga akhirnya Kundan ditolong oleh pasukan BKR/TKR yang bermarkas di Pabrik Sirup ini

Kisah tersebut dapat dibaca di buku berjudul “Pertempuran Surabaya Dalam Lukisan” karya M Sochieb, buku dapat dibaca gratis di toko cinderamata Roodebrug Soerabaia di parkir barat Tugu Pahlawan Surabaya.

Keistimewaan pabrik ini juga adalah sebagai pabrik sirup tertua di Indonesia dan sejak 1920 hingga saat ini masih menggunakan alat-alat produksi tradisional yang sama

peserta berfoto didepan Pabrik Sirup yang pada 1945 jadi markas TKR.foto:Sugeng Wibowo
GM Pabrik Siropen, Pak Sawalin memberi penjelasan. foto: Surya
plakat kuno yang tertempel di gardu listrik belakang pabrik.tulisan jawa: sing ngemek matek. foto: Surya

PERHENTIAN IV:

CAFE OIKOS, GEDUNG BPN

Sesampai di cafe, para peserta bersantai sambil menikmati menu makanan dan minuman dan mendapat penjelasan sejarah gedung BPN oleh Prima Kirti

menanti makan siang. foto: Dwi Fatrianto
dihibur dengan aksi joget Ady dan Rubin :)) foto: Dwi F
Bung Wawan naik menara bendera Oikos. foto: Dwi F
penjelasan sejarah gedung BPN oleh Prima. Foto: Silvi

adapun BK yang sudah kelelahan karena sejak Sabtu jadi sopir malang melintang Surabaya Malang Surabaya dan jadi barisan usung-usung :

kurang kalsium :))  foto: Dwi F

dan tak lupa ucapan terimakasih kepada rekan rekan Media :

SBO TV ( Dwita Ebo dan Adi ) yang selalu setia meliput kegiatan Roodebrug dan mbak Hetty dari Radar Surabaya 🙂

foto: Prima Kirti

terimakasih kepada Allah SWT atas izinNya seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar, terimakasih kepada kawan2 seperjuangan yang rela meluangkan waktu dan tenaga demi persiapan acara ini, terimakasih untuk rekan rekan Media SBO TV dan Radar yang meliput acara ini.

Acara ini terselenggara atas kerjasama Roodebrug Soerabaia Tanda Mata Kota Pahlawan, Oikos Cafe, Dompet Dhuafa dan UPTD Tugu Pahlawan Surabaya 🙂

sekalian IKLAN hehe  :

produk terbaru Roodebrug Soerabaia :

topi dengan loge gemeente soerabaia 1906

sayang sekali kawan kita satu ini kemarin tidak bisa bergabung di front karena musibah kecelakaan motor , mari kita doakan semoga lekas membaik  =)

ditulis oleh :

Ady Erlianto Setyawan

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

Kumpulan Testimonial Veteran 5

Kumpulan Testimonial Veteran 5

  Arsip koleksi DHD 45 Surabaya, memuat kesaksian-kesaksian veteran berikut :   Ny Koesinah Wawardi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *