Friday , April 28 2017
Home / Article / Artikel Vrij Nederland tentang Agresi Militer II
fotodoc1

Artikel Vrij Nederland tentang Agresi Militer II

Masih berkaitan dengan isu yang hangat di negara Belanda tentang aksi Polisionil, kali ini kawan kami Marjolein van Pagee dan proyek fotografinya berjudul “yellow flower” dimuat dalam artikel Vrij Nederland.

Vrij Nederland adalah majalah mingguan dengan berita berita hangat berkualitas

berikut artikel yang sudah di translate dari 6 halaman majalah Vrij Nederland :

Hindia Belanda

Pertempuran sang Kakek

Fotografer Marjolein van Pagee memotret veteran veteran yang pernah saling bertempur bersama dan melawan sang Kakek di tanah koloni Indonesia

Foto : Marjolein van Pagee / narasi : Sophie Derkzen

Jan van Pagee dari Krabbendijke saat itu berusia 20 tahun ketika dikirim ke Surabaya untuk menjalani wajib militer pada musim semi 1947.

Dua tahun kemudian dia kembali ke wilayah pedesaan yang religius di Zeeland,sisi barat laut Belanda

Dia tak pernah lagi membicarakan mengenai perang di tanah koloni. Marjolein cucunya hanya mengingat sebuah potret dari kakeknya yang tergantung diatas tempat tidur neneknya. Foto yang menggambarkan Jan muda berseragam warna khaki. Ketika dia meninggal pada 2005,tiba tiba saja dua buah album foto ditemukan,penuh dengan foto-foto hitam putih.

Fotografer muda inipun memutuskan untuk melakukan riset kisah pertempuran kakeknya yang selama ini terpendam bertahun tahun. Dia membaca laporan pertempuran dan catatan militer yang dia minta pada menteri pertahanan. Upayanya menulis pada majalah veteran mempertemukan dia dengan beberapa orang yang bertugas bersama dengan kakeknya dalam satu batalion.

Seperti Mr Hartsuiker yang bertugas pada department yang sama pada agresi militer kedua dan Mr Bom yang masih mengingat malam pendaratan mereka di Glondong bersamaan dengan turunnya hujan deras.

Namun juga sisi lain dari kisah ini juga perlu diceritakan,begitulah keyakinan fotografer. Di Indonesia dia bertemu dengan mantan mantan pejuang Indonesia yang sudah berusia lanjut yang dulunya bertempur di area dimana kakeknya ditempatkan. Seperti Pak Amari yang kehilangan matanya akibat ledakan mortir dan kemudian hari menjadi mata mata.

Juga Pak Saeran,seorang nelayan dari Glondong yang melihat sendiri kapal kapal angkatan laut berdatangan pada malam hari bulan Desember tersebut.

Kisah yang terlupakan

Ingatan itu terserak tak beraturan, Pak Saeran mengatakan bahwa marinir Belanda menembak membabibuta saat mereka mendarat di pantai Glondong. Dua orang kawannya tewas seketika dan dia sendiri tertembak di kepalanya.

Namun Mr Hartsuiker tidak ingat jika mereka mengeluarkan tembakan dan van Pagee juga belum menemukan sumber dari pihak Belanda yang sesuai dengan kesaksian nelayan Indonesia. Van Pagee selalu mencoba untuk mengecek kebenaran setiap kesaksian, namun itu bukanlah hal mudah untuk menemukan kebenaran dari sebuah peristiwa. Tidak mudah baginya,dia mengatakan dia adalah fotografer dokumenter dari kisah yang terlupakan, bukanlah peneliti sejarah.

Dia juga melintasi halaman kelam dari sejarah perang yang kontroversial. Dia membaca dalam laporan pertempuran mengenai eksekusi dari 50 penduduk sipil setempat setelah mendapat serangan pemberontak. Tanpa pengadilan mereka semua dieksekusi.

Sebagian besar dari veteran yang dia temui mengatakan bahwa terjadi kesalahpahaman media yang saat ini banyak memberitakan tentang kejahatan perang di Indonesia.  Mr Bom mengatakan bahwa foto foto pembantaian yang dimuat koran Volkskrant pada musim panas ini tidak mungkin benar adanya.

Mr Moerdick yang juga veteran mengatakan dia mengatakan semua baik saja pasca perang dan tidak pernah terganggu dalam tidur malamnya. Mr Hartsuiker juga memakai seragamnya dengan bangga, mereka bertugas sederhana, untuk menegakkan hukum dan pemerintahan. Dia tidak menyesal atas pemuda pemuda dan pejuang kemerdekaan yang dia tembak mati ujarnya pada fotografer.

Namun veteran veteran lain melihat kebelakang dengan perasaan hati yang terluka,menyesali perang yang tidak masuk akal bagi mereka.

Tetap menjadi misteri hingga kini bagaimana Jan van Pagee melewati masa masa kemiliterannya. Sang cucu sudah tidak bisa menanyainya lagi.

translate oleh : Ady Setyawan / Marjolein van Pagee

kunjungi website marjolein : http://www.marjoleinvanpagee.nl/

berita terkait :

Album Foto ditempat Sampah yang Menggegerkan Belanda

Prajurit Jacobus, Pemilik Album Foto yang Ditemukan di Tempat Sampah

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

Kumpulan Testimony dan Daftar Riwayat Singkat Pelaku Pertempuran 10 November 1945

Kumpulan Testimonial Veteran 1

Arsip koleksi DHD 45 Surabaya (Daftar Riwayat Singkat Pelaku Pertempuran 10 November 1945) memuat kesaksian-kesaksian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *