Sunday , February 26 2017
Home / Article / BERSIAP PERIODE
soekarnovolkskrant

BERSIAP PERIODE

Era Bersiap = Genosida

Pada awal perang kemerdekaan Indonesia pada 1945 diperkirakan antara 3.500 hingga 30.000 nyawa Belanda melayang ( sebagian besar Indo ) akibat pembantaian yang dilakukan kelompok –kelompok liar bersenjata. Dua surat kabar besar di Belanda mencetak berita dengan judul berikut :

“Pembunuhan Ribuan Indo Belanda Adalah Genosida”

Kemudian Volkskrant mencetak foto ini tepat dibawah judul tersebut.

Sejarawan Amerika, Profesor William H. Frederick telah dikutip sebagian pendapatnya dengan penafsiran yang salah, berikut adalah penjelasannya :

“saya khawatir akan terjadi hal diluar kontrol ketika orang mengartikan artikel saya dalam pandangan mereka sendiri yang mungkin saja tidak membaca tulisan saya selengkapnya dan telah membuat penafsiran yang salah…”

“perlu saya ingatkan pada pembaca bahwa kematian dari 14 orang sudah bisa disebut genosida, bukan pembunuhan biasa…”

“saya kecewa bahwa masalah ini malah menjadi sirkus media , bukannya melakukan penelitian yang serius lebih lanjut kedepannya…”

Dan satu lagi : “tidak, saya tidak percaya bahwa Sukarno dan Hatta maupun sistem pemerintahan dibawahnya bertanggungjawab atas hal ini”

Artikel lengkap dari penelitian Profesor Frederick diterbitkan dalam Journal of Genocide , bulan September 2012.

Kesenjangan jumlah yang luar biasa dari nyawa yang hilang dimana dituliskan terendah pada angka 3.500 jiwa dan tertinggi 30.000 jiwa adalah alasan yang cukup untuk membiayai sebuah studi lebih lanjut mengenai hal ini.

Masih mengenai perihal era bersiap, pernyataan Remco Raben dalam jurnalnya :

“Anehnya tidak pernah ada upaya penghitungan hilangnya nyawa orang-orang Indonesia sejak kedatangan bangsa Belanda ke Nusantara. Daftar aksi kekerasan dan kekejaman kolonial Belanda begitu panjangnya, sejak awal kedatangan  VOC hingga akhir pendudukan mereka, Belanda dan kaki tangannya telah melakukan kejahatan luar biasa, pembunuhan , teror, perampokan, pengusiran paksa dan kelaparan. Korban tewas dari aksi-aksi kekerasan dan pemusnahan massal ini dihitung dalam hitungan angka antara 600.000 hingga satu juta jiwa. Pendekatan jumlah angka ini merupakan penghinaan, tidak tepat, upaya penghitungan yang cacat karena ketidak akuratan data dan kompleksitas penyebab kematian.”

Mungkin sudah terlambat, namun belum cukup terlambat untuk melakukan sebuah studi yang lengkap tentang proses dekolonialisasi di Hindia Belanda.  Semua jenis kekerasan dari semua pihak harus diteliti dan harus ada penjelasan yang cukup gamblang. Profesor Frederick mengatakan bahwa penting untuk digarisbawahi studi dan penelitian ini berada dalam pengawasan sejarawan internasional dan terkemuka. Akan ada kesimpulan yang tidak menyenangkan bagi beberapa pemangku kepentingan, namun ini seharusnya tidak lagi menjadi sesuatu yang harus disembunyikan.

Kutipan dari Profesor William Frederick :  http://indisch4ever.nu/2013/11/21/the-bersiapdiscussion-as-revived-by-w-frederick/

Koran Volkskrant : http://www.volkskrant.nl/vk/nl/2686/Binnenland/article/detail/3546710/2013/11/18/Moord-op-duizenden-Indische-Nederlanders-was-genocide.dhtml

Koran de Telegraaf : http://www.telegraaf.nl/binnenland/22065519/___Moord_op__Indische__Nederlanders_is_genocide___.html

Terkait masalah Hak Cipta, tidak memungkinkan memasukkan seluruh bagian dari Genocide Journal ( 232 halaman). Namun jurnal ini dapat diakses di Koninklijk Bibliotheek untuk tujuan studi / penelitian.

Ditulis oleh : Max Van der Werff

Alih bahasa : Ady Setyawan

Artikel asli ditulis 7 Nov 2013

source : 7mei.nl

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

museum_house_of_sampoerna_surabaya

Bioskop Sampoerna, Korban Pertama Front Pertempuran Surabaya

Kita mungkin sudah tidak asing mendengar nama Museum House of Sampoerna, namun bagaimana kisah sejarah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *