Saturday , October 21 2017
Home / Article / Bioskop Sampoerna, Korban Pertama Front Pertempuran Surabaya
museum_house_of_sampoerna_surabaya

Bioskop Sampoerna, Korban Pertama Front Pertempuran Surabaya

Kita mungkin sudah tidak asing mendengar nama Museum House of Sampoerna, namun bagaimana kisah sejarah pada masa perang Surabaya dibalik megahnya bangunan yang dahulu pernah berfungsi sebagai gedung bioskop ini ?

Berikut adalah kutipan dari buku “Pertempuran Surabaya” yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto pada halaman 154-155 :

Pertahanan disekitar bioskop Sampoerna dan pabrik rokok Lien Sing Tee pada pagi hari 10 November dipertahankan oleh para pejuang berjumlah lebih kurang 100 orang terdiri dari pemuda PRI serta dari badan-badan perjuangan lainnya. Mereka kebanyakan berasal dari Tambak Bayan, Nggringsing, Kebalen, Labuan.

Ikut sertanya mereka disektor pertahanan tersebut umumnya atas kehendak sendiri tanpa ada yang mengkoordinasi. Dua malam sebelum pertempuran terjadi, ketempat tersebut telah bergabung 20 orang pemuda bersenjata lengkap. Mereka umumnya menggunakan seragam tentara Jepang. Usia mereka berkisar antara 17 sampai 20 tahun.

Setelah selesai melakukan bombardemen yang dimulai sejak pukul 10.00, Inggris mulai menggerakkan tank dan infanterinya. Dalam pertempuran dimuka bioskop Sampoerna dengan pasukan gurkha yang mengambil posisi pertahanan dimuka pertahanan para pemuda telah jatuh korban pertama dipihak pemuda Indonesia berusia sekitar 17 – 18 tahun tanpa diketahui identitasnya ( sumber : “Kisah Kapten Muslimin Tentang Pahlawan Tak Dikenal”, Suara Karya 11 November 1974 ). Korban kemudian yang gugur disektor pertahanan bioskop Sampoerna berjumlah tujuh orang.

Mereka yang gugur dalam pertempuran didepan bioskop Sampoerna merupakan korban pertempuran pertama dari semua front pertempuran Surabaya. Karena adanya tekanan dari Inggris akhirnya para pemuda mundur ke kampung Pesapen dan viaduct. Dalam rangkaian bombardemennya Inggris berhasil menghancurkan bangunan Hoofd Bureau terutama bagian muka dan belakang gedung tersebut.

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

Tim Roodebrug Soerabaia saat mengunjungi Jembatan Glienicke

SERPIHAN MERAH PUTIH DI BALIK TEMBOK BERLIN

SERPIHAN MERAH PUTIH DI BALIK TEMBOK BERLIN*   Kamis, 9 Mei 2013. Sidang Tesis tentang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *