Monday , August 21 2017
Home / Article / SERPIHAN MERAH PUTIH DI BALIK TEMBOK BERLIN
Tim Roodebrug Soerabaia saat mengunjungi Jembatan Glienicke

SERPIHAN MERAH PUTIH DI BALIK TEMBOK BERLIN

SERPIHAN MERAH PUTIH DI BALIK TEMBOK BERLIN*

 

Kamis, 9 Mei 2013.

Sidang Tesis tentang Para Eksil Politik Orde Baru di negara bekas blok timur, berjalan lancar.

Aku dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan!

Terbayar lunas proses panjang yang telah ku lalui.

Meninggalkan keluarga untuk mengejar mimpi dan cita-cita.

 

***

1 Mei 2012.

Angin musim semi bertiup di jantung Eropa. Matahari menyapa dengan penuh hangat saat kaki-ku beranjak turun dari tangga pesawat yang baru saja mendarat mulus, setelah menembus batas lintas benua selama empat belas jam! Dari Juanda Surabaya hingga Schiphol di Amsterdam.

 

Libur semester gasal kali ini sengaja ku gunakan untuk terbang menuju Eropa, mengumpulkan serpihan kisah yang terserak, dan mendengar jerit tangis dari hati yang terkoyak.

Aku telah mengajukan proposal penelitian mengenai Perjuangan Hidup Eksil Politik di Zaman Orde Baru yang masih maupun pernah bermukim di bekas wilayah blok timur. Dari data yang ku dapat, masih hidup seorang perempuan yang kini tinggal di Berlin. Data ini ku peroleh dari Pia yang juga berprofesi sebagai wartawati di salah satu kantor berita, ia mengirimkan pesan di kotak masuk e-mail ku:

 

 

“…………Rizal, How Are You? I’ve tried contact you throught facebook but no respond at all. I couldn’t reach your phone too. Have you received an e-mail from me? I just met a woman in Berlin. She is the one whos getting a scholarship from Soekarno’s Government and becoming ‘Eksil Orde Baru’. Might be it would help your Tesis research. If you pleased, go flight to Netherland, I will help you processing research cost from Uni Eropa. There is opportunity for it.

 

Regard

 

Pia…………”

 

 

Pia van Der Meyde, juga merupakan mahasiswi jurusan sejarah.

Sama seperti ku.

Hari pertama, sengaja aku mendarat di Belanda. Ada beberapa arsip yang ku butuhkan di Perpsutakaan Leiden.

 

***

 

Hari Ketiga.

Aku serasa ditelan waktu bila membiarkannya terus berputar tanpa ada hal yang ku perbuat. Telepon genggam’ku memang jarang aktiv, waktu ku lebih banyak ku curahkan untuk duduk di depan komputer dan mengolah data dari setumpuk kertas usang, tentang catatan para eksil Orde Baru.

 

Tentang mereka yang dipenjarakan tanpa bui!

 

Sore itu Pia mengantarku ke Amsterdam Central. Aku menitipkan beberapa barang dan data yang telah ku dapat pada Pia. Rencananya seminggu ke depan aku akan berada di Berlin. Menemui Maria Adriana Jozias.

 

Suara seorang perempuan dalam bahasa Belanda, keluar dari kotak hitam yang menempel pada dinding. Sebentar lagi kereta yang akan membawa ku menuju Berlin Hauptbahnhof , segera tiba dan 59 Euro telah ku rogoh dari kantung’ku untuk membeli tiket Kereta yang akan menuju Berlin dalam perjalanan malam hari.

 

Dari Amsterdam, kereta berhenti di Oberhausen.

 

Dari sana, aku akan berganti kereta menuju Berlin dan 50 Euro sekali lagi ku rogoh dari kantung untuk melanjutkan perjalanan.

 

Aku harus berhemat, meskipun banyak rekan di Eropa yang membantuku. Ini bukan hanya urusan uang, tapi juga kepercayaan dan waktu.

 

***

Hari ke sebelas.

Sudah seminggu lebih aku di Eropa.

Perjuangan ku mendapatkan data dari Maria Adriana Jozias tidak mulus. Perasan curiga masih menghantui perempuan yang berusia kepala delapan. Dia nampak tak nyaman, saat ada orang baru datang untuk mengusik kisah masa lalu kehidupannya.

 

Sempat aku berniat untuk kembali saja ke rumah Pia di Belanda.

Sia-sia aku terus menguntit perempuan Ambon itu.

 

Bagai detektif, aku terus membututi Maria Adriana Jozias agar ia yakin, bahwa aku bukan agen rahasia yang dikirim oleh Hantu Orde Baru yang telah tumbang belasan tahun silam.

 

Namun, pada hari ke sembilan, hasil itu tergambar pada puluhan lembar kertas yang ku dekap penuh rasa kemenangan. Ku cium dan ‘ku lempar senyum pada benda mati itu.

 

Sebuah transkrip wawancara lengkap dengan tanda tangan persetujuan dari Maria Adriana Jozias…!!!

 

Peneliti : Nyonya akan sangat membantu saya untuk segera lulus, bila Nyonya bersedia untuk berbicara sejenak dengan saya. Bisakah Nyonya menceritakan kembali, bagaimana pengalaman hidup nyonya sebelum akhirnya menetap selamanya di Jerman.

 

Narasumber : Ngana tau apa yang beta rasa? Terasing dan jauh dari tanah air itu sakit. Beta rindu pulang. Tapi apa daya, penguasa di tanah air ‘tra ingin beta pulang. Jadi, ngana datang bikin beta so trauma, inga’ masa lalu beta. Maafkan beta Rizal, sekarang beta tau, ngana punya maksud bae. Gandong jang kurang hati beta sulama baru mau ajak ngana bicara (inti yang kutangkap, ia berkata, ‘Sekali lagi aku minta maaf karena sudah lama baru berkenan mengajak mu bicara’).

 

Peneliti      : Baik Nyonya. Sekali lagi, bisakah Nyonya menceritakan pengalaman Nyonya di tanah air dahulu? Tapi maaf, saya kurang paham bahasa ibu Nyonya, boleh kita pakai bahasa Indonesia, bahasa pemersatu kita?

 

Narasumber : Ya. Boleh. Beta rindu mengucapkannya.’Oooiya, panggil saja beta Adriana. Jadi beta memang pernah ikut pertempuran itu di Surabaya Rizal. Beta gabung dengan pasukan palang merah. Panjang ceritanya. Awalnya beta tinggal di asrama susteran, di Yogyakarta untuk mendaftar sekolah di sana. ‘Aku iki yo iso boso Jowo lho!!’.  10 Nopember, ada kongres di Pemuda di Yogyakarta. Beta ikut untuk membantu. Tapi, tiba-tiba ada yang menyela dan memberi kabar bahwa para pemuda dari Surabaya harus balik ke daerah mereka. Inggris membombardir Surabaya! Beta pun diajak bergabung. Surabaya sangat membutuhkan tenaga kami saat itu.

 

Peneliti      : Adriana, kau masih ingat bagaimana suasana waktu itu?

 

Narasumber : Kami tidak sampai masuk kota. Suasana sudah sangat kacau. Banyak warga yang berbondong ke luar kota Surabaya untuk mengungsi. Beta langsung membantu pos dapur umum dan tenda palang merah di Krian. Setiap hari korban terus bertambah. Mengerikan Rizal. Jerit tangis mereka masih beta inga’. Kami masih muda waktu itu. Tapi di sanalah mental kami dilatih. Ngana tau to, setelah itu perang masih berlanjut. Dari Surabaya, beta terus ikut barisan pejuang. Beta juga membantu mengobati korban hingga perang Agresi Militer lawan Belanda. Tak jarang, beta jumpa dengan orang-orang Ambon yang dulu jadi teman beta di Saparua. Mereka pakai seragam Anjing Nica!

 

Peneliti      :Jasa mu sungguh besar Adriana. Bagaimana bisa kemudian kau terdampar di sini?

 

Narasumber : Awal kemerdekaan kita diakui Belanda, 1950, kita yang tergabung dalam kesatuan Tentara Pelajar Republik Indonesia Jawa Timur, dimobilisasikan. Beta ini orang Ambon, tapi beta lanjut sekolah di Jawa. Tak jelas waktu itu, Fransisca Sapulette mendaftarkan nama beta sebagai siswa perempuan di sekolhan Surabaya. Ada beberapa pilihan bagi kami, masuk tentara, jadi pegawai negeri atau lanjut sekolah. Umur beta sudah menginjak 20 tahun waktu itu. Beta pilih sekolah, karena itu tujuan beta datang ke Yogyakarta dulu, sampai terdampar ikut perang di Surabaya.

 

Peneliti      : Kisah mu luar biasa Adriana, kau tergabung sebagai Mbak TRIP? Lau bagaimana kau bisa berangkat ke Jerman.

 

Narasumber : Lulus sekolah, beta sempat bekerja. Tapi beta rasa ilmu beta masih sedikit. Tahun 1960, Presiden Soekarno memberi beasiswa bagi para pemuda untuk kuliah di negara-negara blog Timur. Dulu, di Yogyakarta beta tinggal di asrama susteran, beta kagum liat suter yang hidupnya dibaktikan kepada Tuhan. Beta ingin seperti mereka, beta daftar beasiswa itu ke Universitas Humboldt untuk mengambil jurusan Filsafat dan Teologi. Beta lolos, pergilah beta ke Jerman Timur. Humboldt jadi mimpi nyata buat beta. Beta serasa jadi adik tingkat Hegel, Frederich Engels, hingga Albert Einstein.

 

Peneliti      : Waktu itu bukankah Jerman Timur dikuasai komunis?

 

Narasumber : Ngana cerdas Rizal! Partai Komunis Jerman menguasai tempat belajar beta. Bahkan hingga rezim Jerman Timur runtuh pada 1989, Universitas Humboldt tetap dipegang pikiran kaku dari Sosialistische Einheitspartai Deutschlands. Partai Kesatuan Sosialis Jerman. Tahun 1966, masalah menimpa beta dan mahasiswa lain. Dari tanah air, isu pembunuhan tujuh jenderal oleh PKI berhembus hingga ke Jerman. Yang beta dengar, suasana di Indonesia sangat kacau! Semua keluarga dan teman kirim surat pada beta, bilang ‘tetap berada di Jerman, sampai semua masalah selesai’. Beta dipaksa kasih tanda tangan untuk mendukung Soeharto. Beta tra mau to? Beta tra kenal siapa Soeharto. Buat apa beta belajar filsafat, tapi logika beta mati?

 

Peneliti      : Setelah tidak mengakui Soeharto, hal apa yang terjadi pada mu Adriana?

 

Narasumber : Beta jadi eksil. Beta lulus dari Humboldt tapi ilmu beta tra bisa beta pakai di Indonesia. Penguasa baru itu seperti tra butuh pada kami. Kami juga di kasih label komunis. Siapapun yang menentang Soeharto adalah komunis, itu label yang ia bikin! Beta ini bukan komunis, beta juga tidak mendukung komunis. Beta mendukung kemanusiaan! Lima tahun beta ikut menolong korban perang. Mengorbankan waktu yang beta miliki untuk bersekolah, mengejar mimpi beta di Jawa dan pulang ke Ambon untuk membantu kampung beta. Tapi yang beta dapat dari ini semua, sungguh membuat beta sakit hati. Beta tra bisa berjumpa dengan beta punya Papa, Mama, dan kelurga beta di Ambon. Beta dianggap komunis, nama beta dihapus dari keluarga. Beta hidup dengan bantuan belas kasian para eksil lain di Eropa. Apa gunanya belajar bila ilmu kita tak berguna untuk tanah air Rizal?

 

***

Aku meneteskan air mata, saat membaca kembali bait transkrip wawancara yang berisi tumpahan kekesalan Adriana.

 

Seorang perempuan Ambon yang hidup sebatang kara, terbuang jauh dari tanah airnya.

Menyambung hidup dengan menjual bunga dan cokelat di taman kota Berlin.

 

Adriana ikut membantu para korban perang.

Bahkan mungkin, beberapa korban masa Agresi Militer Belanda yang ia selamatkan dari kematian, pernah duduk manis sebagai politisi rezim Orde Baru saat Dwi Fungsi ABRI berjalan.

 

Katanya, hanya ada dua hal yang sekarang sedang ia nanti, pulang ke Indonesia dan mati.

 

Bila pulang ke Indoensia adalah mimpi yang terlalu jauh ‘tuk digapai,

 

katanya,

“hanya tinggal kematian yang pasti datang tanpa ditunggu!”

 

*Sebuah cerpen fiksi sejarah karya : Joe Pradana

Ilustrasi Image : Tim Roodebrug Soerabaia saat mengunjungi Jembatan Glienicke yang menghubungkan Berlin dengan Potsdam, batas Jerman Barat dengan Jerman Timur. Tempat yang digunakan sebagai pertukaran tawanan

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

Terloepa

(Oleh Ardi Wina Saputra)   Kupandangi dari balik kelambu jendela kamar, puluhan burung besi mengitari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *