Home / Article / Insiden Kekerasan Imlek di Surabaya Tahun 1912

Insiden Kekerasan Imlek di Surabaya Tahun 1912

Gepeng

Tahukah anda bahwa perayaan Imlek tahun 1912 di Surabaya berubah menjadi sebuah panggung pertikaian sengit antara penduduk golongan Tiong Hoa dengan kepolisian kota yang baru saja terbentuk?

Penyebabnya sangat sepele, yaitu pelarangan untuk menyulut petasan di jalanan kota Surabaya. Tindakan ini dianggap merusak suasana tahun baru yang pada tahun itu dianggap istimewa karena bersamaan dengan berdirinya Republik Tiongkok. Ketika Komisaris Polisi hendak menahan salah satu dari warga Tiong Hoa yang berpesta kembang api, warga sekitar datang berkerumun dan membela rekannya. Menurut laporan resmi ( Officieel relaas 1912 no 602) , warga berkerumun dan berteriak “kee-hoet” ( bunuh dia).

Kerusuhan pecah dan menjadi awal dari serangkaian konfrontasi penuh kekerasan antara warga Tiong Hoa dengan agen-agen Polisi diberbagai tempat kawasan Pecinan. Kerusuhan sama juga terjadi di Batavia dan Semarang, namun skala kekerasan dan kerusuhan yang terjadi di Surabaya jauh lebih besar dari kedua kota diatas. Hal ini menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi Kepolisian dan kekuasaan kolonial, terutama bagi Komisaris Besar Polisi baru di Surabaya : C.J Boon

Komisaris Besar Polisi Boon yang sangat terkejut mendapatkan laporan insiden pertama, dengan delapan agen Polisi segera turun melakukan inspeksi ke lapangan. Tetapi kehadirannya hanya makin menyulut amarah warga ketika melarang disulutnya kembang api dijalanan Kembang Jepun. Masih menurut laporan resmi, agen-agen Polisi Jawa menggunakan kekerasan untuk membebaskan dan mengamankan Komisaris Besar Boon dari kerumunan warga yang marah. Selanjutnya Boon dengan bantuan beberapa prajurit infantri dan agen Polisi berbalik mengejar orang-orang yang sedang berpesta ria yang kemudian lari berhamburan sembunyi masuk kedalam toko-toko cina di kawasan itu.

Polisi memasuki sebuah toko, pemiliknya memadamkan lampu sehingga warga dapat melarikan diri melalui pintu belakang. Boon dan anak buahnya terkurung didalam toko selama lebih kurang satu jam, insiden ini diberitakan media massa dengan versi yang berbeda-beda di hari-hari berikutnya.

Sorenya pada hari yang sama, asisten residen Kepolisian bersama seorang Kapten Pecinan datang sebagai bala bantuan berupaya menenangkan warga. Keesokan harinya, kelompok yang jauh lebih besar sekitar 200 hingga 300 orang mendobrak masuk, menjarah , merusak mobil-mobil dan kereta kuda si Kapten Cina. Kepolisian datang terlambat dan gagal mencegah tindakan anarkis diatas, Kepolisian melakukan penyisiran dikawasan Pecinan dan Kampung Arab serta menahan puluhan warga Cina tanpa pandang bulu.

Mereka yang ditangkapi ini kemudian dipaksa untuk duduk jongkok dimana hal ini dianggap sebagai sebuah penghinaan besar oleh kelompok Tiong Hoa. Insiden ini menyatukan dua kelompok Tiong Hoa yaitu Cina Makao/ Cina Singkeh dengan Cina Peranakan. Pada hari berikutnya, masyarakat Tiong Hoa Surabaya bersepakat memulai boikot yang kemudian menyebar cepat ke seluruh kota. Selama hampir satu minggu perdagangan di Surabaya lumpuh total. Masyarakat golongan Tiong Hoa berhasil menunjukkan diri sebagai satu front yang patut diperhitungkan oleh penguasa kolonial.

Kelompok Pers kulit putih memandang sikap Kepolisian Surabaya terlalu lembek. Para jurnalis Eropa menulis tiga tahapan dimana Kepolisian dinilai gagal dalam bertindak:
1. Ketika Komisaris Boon dijebak dan disekap di toko Cina.
2. Gagalnya Polisi mencegah kekerasan dirumah Kapten Cina
3. Gagalnya Polisi menanggulangi aksi boikot

“Beberapa tembakan udara kiranya cukup membubarkan gerombolan liar itu”, demikian tulis salah satu artikel di “Soerabajasch Handelsblaad”. Artikel-artikel lain menulis tak kalah pedas : “selama satu minggu Soerabaja jatuh ketangan perusuh Makao”. Ulasan -ulasan diatas mencerminkan kegelisahan masyarakat Eropa menghadapi bangkitnya pergerakan.

Harian “Soerabajasch handelsblaad” lebih lanjut menuliskan artikel pada tanggal 24 Februari 1912 : Pasca kerusuhan Imlek di Surabaya tahun 1912, warga kulit putih tidak lagi berani ke benedenstad ( kota bawah) dengan tanpa membawa senjata api, jumlah permohonan izin kepemilikan senjata api meningkat dengan pesat.

Sumber : Polisi Zaman Hindia Belanda, Dari Kepedulian dan Ketakutan. Hal 177-181

Foto : Salah seorang warga kampung Pecinan Tambak Bayan dalam persiapan Imlek 2019, jepretan oleh Andrean Hk

Literatur pada catatan kaki :

1. Tentang persaingan Jawa-China pada periode ini baca “The Netherlands Indies and the Great War 1914-1918” hal 39-41 dan “An Age in Motion : Popular Radicalism in Java 1912-1926” hal 45-46.

2. Tentang sejarah dan posisi warga Tiong Hoa di Hindia Belanda baca “Overseas Chinese Nationalism ; The genesis of the Pan Chinese Movement in Indonesia 1900-1916”

3. Harian “Soerabajasch Handelsblaad” tertanggal 21/02/1912 , 24/02/1912. “Javabode” tertanggal 27/02/1912 dan “Weekblad van Indie” tertanggal 10/03/1912.

 

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

IMG_20180812_152250[1]

Tugu Status Quo Pujon

Pada tanggal 1 Agustus 1947, DK PBB memerintahkan agar pihak Indonesia dan Belanda menghentikan tembak-menembak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *