Home / Article / Insiden Bendera, Mempertanyakan Kesaksian Bapak Eddie Samson
perobekan bendera merah putih surabaya
perobekan bendera merah putih surabaya

Insiden Bendera, Mempertanyakan Kesaksian Bapak Eddie Samson

Insiden Bendera, Mempertanyakan Kesaksian Bapak Eddie Samson

Sebelum membaca surat ini lebih lanjut, ijinkan kami memperkenalkan siapa sosok Bapak Eddie Samson. Beliau adalah Ketua perkumpulan Indo Club Surabaya dan pernah menjadi anggota Cagar Budaya Pemkot Surabaya. Beberapa minggu yang lalu kami melihat melalui media sosial bahwa pada tanggal 28 Maret 2019 Bapak Eddie Samson mendapatkan penghargaan dari Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga. Dengan semua latar belakang ini, beliau seringkali menjadi jujugan para pencari informasi sejarah kota Surabaya, baik dari media massa hingga pelajar dan mahasiswa. Termasuk pencari informasi dari luar negeri.

Insiden perobekan bendera di Hotel Yamato ( kini Hotel Majapahit ) pada tanggal 19 September 1945 adalah insiden yang memiliki nilai historis cukup penting bukan hanya bagi kota Surabaya, tetapi juga bagi revolusi di Indonesia. Peristiwa ini adalah pemantik awal api revolusi di Indonesia, sebuah peristiwa awal dimana Belanda menunjukkan dengan nyata keinginan untuk mencengkeram kembali koloninya. Dimana disambut dengan tindakan nyata pula oleh para pemuda Surabaya.

Para saksi mata atas kejadian ini telah meninggal dunia, tidak sedikit dari mereka yang meninggalkan catatan kesaksian bagaimana kronologis peristiwa tersebut berlangsung. Sayangnya setelah lebih dari 70 tahun berlalu, catatan kesaksian mereka cukup sulit untuk didapatkan. Buku memoar mereka menjadi langka di pasaran dan sebagian memoar tersimpan di rak-rak arsip yang jarang terakses publik.

Disisi lain, Bapak Eddie Samson hadir , mengaku sebagai saksi dan melihat langsung bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Yang menjadi masalah disini adalah kesaksian beliau sangat bertolak belakang dengan arsip kesaksian dari belasan orang lainnya, baik tokoh masyarakat pada masa itu maupun warga biasa yang ada di lokasi. Bahkan arsip kesaksian dari tentara Belanda yang bernama Sersan Lou Balls pun tidak sinkron dengan kesaksian bapak Eddie Samson.

Bapak Eddie Samson dalam kesaksiannya menitikberatkan bahwa MR Ploegman sebagai tokoh kelompok Indo Belanda dan menjabat sebagai ketua IEV ( Indo Europees Verbond ) ketika itu menyeberang jalan dari gedung seberang Hotel Yamato ( kini gedung Badan Pertanahan Nasional ) kemudian tiba-tiba dia ditangkap dan ditusuki oleh massa rakyat Surabaya hingga mati.

Arsip dan memoar dari belasan saksi maupun peneliti lain mengatakan hal yang berbeda. Secara garis besar dituliskan, pasca berkibarnya bendera Belanda,massa rakyat berkumpul didepan Hotel Yamato, suasana memanas. Residen Sudirman selaku pejabat pemerintah kota Surabaya datang ke Hotel untuk berunding dengan MR Ploegman, selaku pejabat Gunseikan, beliau menjelaskan kepada Ploegman dan orang-orang Belanda disitu agar mematuhi peraturan yang dikeluarkan Tianbucho dan Kempetaicho sesuai yang termuat di koran Soeara Asia tertanggal 21 dan 30 Agustus 1945. Beliau menjelaskan bahwa dengan mengibarkan bendera Belanda maka mereka telah berbuat keonaran dan bendera itu harus diturunkan kembali.

Reaksi yang diberikan Ploegman diluar dugaan. Ia mengatakan “Republik Indonesia tidak ada!!” lalu ia pergi dan segera kembali , ia menodongkan sepucuk pistol kearah kepala Residen Sudirman. Seorang anak buah Sudirman yang bernama Sidik menendang pistol yang kemudian meletus. Perkelahian pun pecah di lobbi hotel yang berujung tewasnya Ploegman. Diluar hotel, Hariyono dan Kusno Wibowo berhasil memanjat menara dan merobek bendera. Baik Ploegman maupun Sidik mengalami luka berat dan keduanya dilarikan ke RS Simpang, namun sayangnya nyawa mereka berdua tidak tertolong. Keduanya meninggal berselang hari saat dalam perawatan RS.

Kisah kesaksian versi bapak Eddie Samson telah tersebar luas, diantaranya dimuat oleh buku hard cover setebal 160 halaman terbitan Asia Maior berjudul “Soerabaja, Beeld van een stad” dan sebuah film dokumenter VPRO oleh Adriaan Van Dis berjudul “Van Dis in Indonesie”dengan potongan video tercantum diatas. Selain mengatakan bahwa Ploegman terbunuh saat menyeberang jalan, di buku Asia Maior juga disebutkan bahwa keributan reda setelah pasukan Jepang hadir mengendalikan massa. Disisi lain, kesaksian-kesaksian menyebutkan bahwa setelah merah putih dikibarkan, massa membubarkan diri. Koran Jawa Pos pun pernah memuat kesaksian versi bapak Eddie Samson dalam salah satu artikelnya tertanggal 19 September 2016.

Mengapa hal ini penting dan perlu didiskusikan?

Bapak Eddie Samson yang hadir mengaku sebagai saksi dengan mudah dipercaya publik, karena latar belakang beliau dan sulitnya akses atas arsip dan informasi dari para pelaku yang telah meninggal dunia. Siswa sekolah datang mewawancara dan menuliskan hasilnya pada blog maupun media massa menyebar dengan mudah, jauh lebih mudah diakses daripada arsip-arsip kesaksian asli.

Disadari atau tidak, kesaksian bapak Eddie Samson sangat mendiskreditkan karakter para pejuang Surabaya pada masa revolusi 45. Mereka digambarkan sebagai sosok yang buas dan haus darah, membunuh tokoh Indo Belanda tak berdosa yang berjalan menyeberang tanpa senjata.

Disadari atau tidak, secara tidak langsung Bapak Eddie Samson menyebut kesaksian-kesaksian dari Bung Tomo, Pak Jasin Komandan Polisi Istimewa, Mayjen ( purn ) Hario Kecik dan lain-lainnya adalah bohong belaka.

Kesaksian beliau tanpa disadari telah merubah jalannya cerita sejarah, sebuah PEMBIASAN yang menyudutkan.

Buku Asia Maior , film dokumenter dari Adriaan van Dis dan artikel Jawa Pos menggunakan kesaksian tunggal dari Bapak Eddie Samson seorang, tanpa klarifikasi sumber lain.

Bapak Eddie Samson yang pada saat itu masih anak-anak mengaku melihat peristiwa dari kejauhan. Dimana tidak mungkin melihat keadaan didepan hotel dari gedung palang merah ( kini BPN ). Adanya perundingan antara Sudirman dengan Ploegman adalah satu bagian yang sangat signifikan. Arogansi Ploegman menjadi faktor penting meningkatnya eskalasi ketegangan.

Ini adalah salah satu contoh yang menunjukkan bagaimana sudut pandang pihak kolonial memberi pengaruh pada historiografi di Indonesia yang harusnya mendapat perhatian lebih. Tanpa adanya reaksi dari pihak Indonesia, maka publik akan beranggapan sumber-sumber Belanda sebagai bagian dari fakta sejarah.

Sekedar informasi bahwa pada bulan Juli tahun 1973 salah satu saksi veteran insiden perobekan bendera yang bernama Budi Tjokrodjojo menuliskan sebuah artikel di media tentang kegelisahan atas banyaknya kesaksian palsu sekitar peristiwa tersebut. Beliau berharap pemerintah dan instansi terkait segera mengadakan diskusi atau seminar membahas peristiwa ini untuk meluruskan sejarah. Arsip yang kami temukan di Perpustakaan Leiden itu tidak berkelanjutan, kemungkinan memang tidak mendapatkan respon.

Kami telah beberapakali mengundang bapak Eddie Samson untuk hadir dalam diskusi terbuka namun selalu mendapatkan penolakan. Tidak ada yang personal antara kami dengan Bapak Eddie Samson. Apa yang kami lakukan adalah semata-mata murni perjuangan meluruskan sejarah dan mengembalikan nama baik para pahlawan pendahulu kami.

Hampir setengah abad berlalu sejak terbitnya tulisan veteran Budi Tjokrodjojo. Humas Pemerintah Kota Surabaya telah menolak mengadakan sebuah seminar membahas sejarah perobekan bendera. Mungkinkah Prodi Sejarah Universitas Airlangga sebagai institusi akademis berkenan untuk memfasilitasi pertemuan sekaligus membuat sebuah ajang diskusi ilmiah ? Semoga ada kepedulian, untuk sejarah dan masa depan Indonesia.

Hormat kami…
– Ady Setyawan / Penulis buku “Surabaya, Di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu?”
– Marjolein van Pagee / Sejarawan Belanda
– Rintahani Johan / Sejarawan Indonesia
– Arif Yanuar / Ketua Komunitas Sejarah “Roodebrug Soerabaia”
– Heri Lentho / Koordinator Surabaya Juang dan Seniman
– Kuncarsono Prasetyo / Inisiator Gerakan Surabaya Mbois
– Dimas Adi / Aktivis Sejarah Revolusi Indonesia, Mahasiswa Polandia

PS : Bagi rekan pembaca lain yang mendukung tulisan ini, silahkan turut membagikan.

 

Artikel terkait:

Sumber 1 Memoar Jasin, Polisi Istimewa :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217310710576450&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 2 Memoar Bung Tomo :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217315835544571&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 3 Memoar Hario Kecik :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217324044909800&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 4 Irna Hadi Soewito :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217374516371555&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 5 “Pertempuran Surabaya” oleh Pusjarah dan Tradisi ABRI :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217374516371555&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 6 , Kesaksian Sudi Sujono :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217387652099940&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 7 , Kesaksian Sersan Lou Balls :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217396628204337&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 8 , drg Barlan Setiadidjaja
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217511951247341&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 9 , Arsip kekecewaan veteran Budi Tjokrodjojo atas banyaknya kesaksian palsu :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217922805438439&set=a.10217310710496448&type=3&theater

Sumber 10 , Catatan penulis-penulis asing tentang keberadaan anak-anak kecil Indo didepan Hotel Yamato saat hari terjadinya insiden :

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10218208653824470&set=a.10217310710496448&type=3&theater

About Ady Setyawan

Ady Setyawan, penulis dan penghobi sejarah terutama era perang kemerdekaan. Buku yang pernah diterbitkan berjudul "Benteng Benteng Surabaya". Menyukai aktivitas fisik luar ruang, lari lintas medan, menyelam, panahan dan terjun payung.

Check Also

IMG_20180812_152909[1]

Medan Gerilya Batalyon Naga Hitam

Komandan Batalyon II Naga Hitam Mayor Abdul Manan Wijaya dilahirkan di desa Ngroto kecamatan Pujon …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *